Monday, 06 February 2023

Monday, 06 February 2023

Kinerja Positif APBN 2022 Modal Kuat Hadapi Ketidakpastian Global

Wamenkeu Suahasil Nazara.

JAKARTA– Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara mengatakan perekonomian Indonesia tahun 2022 tumbuh tinggi dengan kegiatan ekonomi yang juga meningkat. APBN 2022 telah bekerja keras sebagai shock absorber untuk melindungi masyarakat dan menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional.

Kinerja positif APBN 2022 akan menjadi modal kuat menghadapi ketidakpastian situasi global dan konsolidasi fiskal tahun 2023. “Kita keluar dari periode pandemi dan kita memiliki ketahanan yang cukup kuat. Ibaratnya, kuda-kuda kaki kita itu cukup kuat untuk masuk ke 2023,” ujar Suahasil dalam acara Squawk Box CNBC Indonesia, seperti dikutip dari laman Kemenkeu, Jumat (13/1).

Hal tersebut dapat dilihat dari indikator-indikator ekonomi yang memberikan optimisme, seperti indikator permintaan listrik, ritel, dan lain sebagainya. Namun, Wamenkeu mengingatkan bayang-bayang dari ketidakpastian global juga harus terus diwaspadai.

“Sepertiga dunia akan ada di dalam periode yang sangat sulit, bahkan dikatakan resesi. Yang dua pertiga pasti kena dampak, tetapi dampaknya hampir pasti berbeda-beda. Untuk Indonesia, kita minimalkan dengan fundamental domestiknya yang kuat. Itu yang sumber optimismenya,” kata Suahasil.

Guna mengantisipasi dampak resesi yang sudah terjadi di negara maju, Wamenkeu mengungkapkan bahwa Indonesia perlu untuk mencari sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yang baru, yakni dengan melanjutkan hilirisasi sumber daya alam, menggunakan produk dalam negeri, mendorong UMKM, dan melakukan transisi menuju ekonomi hijau.

“Ini sudah mulai digaungkan dan kita terus lakukan dengan disiplin karena akan menciptakan banyak sekali multiplier effect di dalam negeri. Empat ini adalah sumber pertumbuhan ekonomi baru Indonesia dan itu didorong oleh fundamental kita,” ujar Suahasil.

Lebih lanjut, ketika dunia mengalami resesi, Wamenkeu menekankan bahwa yang langsung terdampak adalah sektor-sektor yang memiliki eksposur ke global yang tinggi, seperti sektor keuangan. “Pasti kita harus sangat sangat waspada bagaimana hubungan financial sector kita dengan global,” tuturnya.

Sektor lainnya yang juga terdampak resesi adalah sektor-sektor manufaktur yang melakukan ekspor. Menurut Wamenkeu, ketika pendapatan di negara-negara tujuan ekspor menurun, permintaan barang dan jasa ke Indonesia juga ikut menurun. Untuk itu, perlu meningkatkan competitiveness dan memperbaiki efisiensi.

“Dunia usaha kemudian meningkatkan penggunaan input yang efisien sehingga produknya itu menjadi kompetitif harganya. Ini mesti diterjemahkan ke setiap dunia usaha. Teman-teman di asosiasi sekarang saya rasa sudah cukup mendalami ini dan kita tentu akan men-support dari pemerintah seperti apa yang harus kita lakukan untuk menjaga competitiveness kita terhadap barang-barang yang kita ekspor ke luar,”tandas Suahasil.***

Vitus DP

Berita Terbaru

Baca juga:

Follow International Media