Internationalmedia.co.id – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela kembali memanas. Dua pesawat pengebom B-52 milik Amerika Serikat terpantau terbang di atas Laut Karibia, tepatnya di sepanjang garis pantai Venezuela pada Kamis (6/11) waktu setempat. Aksi ini menjadi unjuk kekuatan yang keempat kalinya dilakukan oleh militer AS dalam beberapa pekan terakhir.
Penerbangan pesawat pengebom ini terjadi di tengah kampanye militer yang dilancarkan Washington terhadap aktivitas penyelundupan narkoba di wilayah tersebut. AS telah mengerahkan kekuatan angkatan laut dan udara dengan dalih memerangi perdagangan narkoba. Namun, langkah ini justru memicu kekhawatiran di Venezuela, yang menduga bahwa tujuan sebenarnya adalah perubahan rezim.

Menurut data dari situs pelacakan Flightradar24, kedua pesawat pengebom tersebut terbang sejajar dengan pantai Venezuela, kemudian berputar di timur laut Caracas, ibu kota Venezuela. Setelah itu, mereka kembali menyusuri pantai sebelum berbelok ke utara dan terbang menjauh ke laut.
Ini bukan kali pertama pesawat militer AS terbang di dekat Venezuela. Setidaknya, sejak pertengahan Oktober, kejadian serupa telah terjadi sebanyak empat kali. Sebelumnya, pesawat pengebom B-52 pernah melakukan hal serupa, dan pengebom B-1B juga telah terbang di wilayah tersebut dalam dua kesempatan terpisah.
Selain itu, Amerika Serikat juga telah memerintahkan gugus tugas kapal induk USS Gerald R. Ford untuk beroperasi di Amerika Latin, mengerahkan pesawat tempur siluman F-35 ke Puerto Riko, dan saat ini memiliki enam kapal Angkatan Laut AS yang berpatroli di Karibia. Semua ini dilakukan sebagai bagian dari upaya yang diklaim sebagai operasi antinarkotika.
Pasukan AS dilaporkan telah menyerang setidaknya 17 kapal yang diduga terlibat dalam penyelundupan narkoba sejak awal September, yang mengakibatkan sedikitnya 67 orang tewas. Namun, hingga saat ini, Amerika Serikat belum memberikan bukti yang meyakinkan bahwa kapal-kapal yang menjadi target tersebut benar-benar digunakan untuk menyelundupkan narkoba atau menimbulkan ancaman bagi negara tersebut.
Ketegangan regional semakin meningkat akibat kampanye militer AS ini. Venezuela menuduh Washington berkonspirasi untuk menggulingkan Presiden Nicolas Maduro. Situasi ini memicu kekhawatiran akan potensi konflik yang lebih besar di kawasan tersebut.
