Iran secara resmi mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk campur tangan, meminta Amerika Serikat segera membebaskan kapal kargo serta awaknya tanpa syarat. Permintaan ini disampaikan oleh Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeed Iravani, melalui surat resmi yang ditujukan kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan presiden Dewan Keamanan PBB pada Selasa (21/4) waktu setempat. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa langkah ini diambil menyusul insiden penyitaan kapal dagang Iran yang disebut sebagai "pelanggaran internasional yang terus-menerus" oleh Amerika Serikat.
Dalam suratnya, Iravani merinci insiden yang menimpa kapal dagang Touska. Ia menegaskan bahwa pasukan Amerika Serikat telah menyita kapal tersebut di Laut Oman, dekat garis pantai Iran, dalam apa yang disebutnya sebagai "serangan bermusuhan dan ilegal." Tindakan ini, menurut Iravani, melibatkan "pemaksaan, intimidasi, serta secara sembrono membahayakan nyawa awak kapal dan keluarga mereka."

Dubes Iran tersebut menekankan implikasi hukum dan keamanan dari insiden ini. "Penyitaan kapal sipil ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap prinsip-prinsip dasar hukum internasional," ujarnya, seperti dilansir oleh media Iran, Press TV. Ia menambahkan bahwa "intimidasi yang disengaja dan teror psikologis yang ditimpakan kepada awak kapal dan keluarga mereka semakin memperparah tindakan ini. Perilaku tersebut sama dengan pembajakan maritim dan merupakan eskalasi berbahaya yang sangat mengancam keselamatan dan keamanan jalur pelayaran vital."
Iravani lebih lanjut menyoroti bahwa serangan ini memenuhi semua ciri agresi sebagaimana disebutkan dalam resolusi Majelis Umum PBB yang relevan. Lebih jauh lagi, ia mengklaim bahwa tindakan tersebut juga merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump pada 7 April. "Tindakan ini menimbulkan ancaman serius terhadap perdamaian dan keamanan regional dan internasional, yang semakin memperburuk situasi yang sudah rapuh," tegasnya.
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Iran juga telah mengeluarkan pernyataan keras, mengecam agresi tersebut sebagai tindakan terorisme. Insiden penyitaan ini terjadi di tengah blokade yang diterapkan Amerika Serikat terhadap kapal-kapal dan pelabuhan-pelabuhan Iran, meskipun ada pengumuman gencatan senjata.
