Internationalmedia.co.id – Sebuah laporan mengejutkan menyebutkan bahwa Amerika Serikat (AS) tengah mempersiapkan penempatan militernya di sebuah pangkalan udara di Damaskus, Suriah. Langkah ini disebut-sebut sebagai bagian dari upaya memfasilitasi pakta keamanan antara Suriah dan Israel yang dimediasi oleh Washington.
Menurut laporan Reuters, rencana yang belum pernah diungkapkan sebelumnya ini, menandakan perubahan strategis yang signifikan bagi Suriah, terutama setelah lengsernya Bashar al-Assad tahun lalu. Enam sumber yang mengetahui persiapan tersebut, termasuk pejabat Barat dan pejabat pertahanan Suriah, mengonfirmasi informasi ini kepada Reuters.

Pangkalan tersebut, yang terletak di pintu gerbang selatan Suriah, diperkirakan akan menjadi bagian dari zona demiliterisasi yang diusulkan dalam pakta non-agresi antara Damaskus dan Tel Aviv. Kesepakatan ini sendiri tengah diupayakan oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa dijadwalkan bertemu dengan Trump di Gedung Putih pada Senin (10/11) mendatang, menjadi kunjungan pertama seorang kepala negara Suriah ke Gedung Putih.
Seorang pejabat pemerintah AS yang tidak disebutkan namanya menyatakan bahwa Washington terus mengevaluasi kebutuhan militernya di Suriah untuk memerangi ISIS secara efektif, namun menolak mengomentari lokasi spesifik atau potensi lokasi operasi pasukan.
Seorang pejabat militer Barat menambahkan bahwa Pentagon telah mempercepat rencana ini dalam dua bulan terakhir, dengan melakukan beberapa misi pengintaian ke pangkalan tersebut. Hasil pengintaian menunjukkan bahwa landasan pacu di pangkalan tersebut siap digunakan.
Sumber militer Suriah menyebutkan bahwa pembicaraan teknis berfokus pada penggunaan pangkalan untuk logistik, pengintaian, pengisian bahan bakar, dan operasi kemanusiaan, dengan Damaskus mempertahankan kedaulatan penuh atas fasilitas tersebut.
Salah satu pejabat pertahanan Suriah mengungkapkan bahwa pesawat angkut militer C-130 AS telah melakukan pendaratan di pangkalan tersebut sebagai "uji coba". Namun, belum jelas kapan personel militer AS akan ditempatkan di pangkalan tersebut.
Sebelumnya, Al-Sharaa menegaskan bahwa setiap kehadiran pasukan AS harus disetujui oleh negara Suriah yang baru.

