Israel menolak gencatan senjata di Gaza. Pernyataan mengejutkan ini disampaikan Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar. Internationalmedia.co.id melaporkan, Saar menyebut tekanan internasional untuk gencatan senjata dan pengakuan negara Palestina sebagai "kampanye yang terdistorsi". Menurutnya, menghentikan konflik saat Hamas masih berkuasa dan menyandera warga Israel akan menjadi bencana.
Saar menegaskan penolakan Israel terhadap gencatan senjata, tak peduli seberapa besar tekanan internasional yang diberikan. Konflik yang telah berlangsung hampir 22 bulan ini, sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, menurut Saar, sepenuhnya tanggung jawab Hamas. Tekanan internasional, justru dianggapnya akan memperkuat sikap keras Hamas. Pertanyaan Saar yang menohok, "Apa maksudnya mengakhiri perang jika Hamas tetap berkuasa di Gaza?" menunjukkan sikap tegas Israel.

Tekanan internasional untuk gencatan senjata semakin meningkat dalam beberapa pekan terakhir, terutama untuk memungkinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza dan mencegah kelaparan massal. Namun, Saar menolak keras usulan ini. Ia bahkan menanggapi upaya beberapa negara, termasuk Prancis, untuk menghidupkan kembali solusi dua negara. Saar dengan tegas menyatakan bahwa mendirikan negara Palestina saat ini sama artinya dengan mendirikan negara Hamas, yang disebutnya sebagai negara jihadis. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Israel tidak akan berkompromi selama Hamas masih memegang kendali di Gaza.
