Gaza berduka, gencatan senjata ternodai. Internationalmedia.co.id melaporkan, serangan Israel kembali mengguncang Gaza, menewaskan sedikitnya 22 orang di tengah harapan gencatan senjata yang rapuh. Serangan ini memicu kecaman internasional dan pertanyaan tentang komitmen Israel terhadap perdamaian.
Serangan yang diklaim Israel sebagai operasi menargetkan Hamas, menghantam Kota Gaza di utara dan Khan Yunis di selatan. Badan Pertahanan Sipil Gaza mencatat 12 korban jiwa di Kota Gaza dan 10 lainnya di Khan Yunis. Militer Israel berdalih serangan itu merupakan respons terhadap tembakan yang dilancarkan militan Hamas ke arah pasukan mereka di selatan.

"Tindakan ini merupakan pelanggaran perjanjian gencatan senjata," tegas militer Israel dalam pernyataan resminya, seraya menambahkan bahwa tidak ada korban luka di pihak mereka. "Sebagai tanggapan, IDF mulai menyerang target teroris Hamas di seluruh Jalur Gaza."
Meskipun diklaim sebagai serangan terhadap Hamas, fakta di lapangan menunjukkan dampak yang menghancurkan bagi warga sipil. Gencatan senjata yang seharusnya menjadi jeda dari konflik, kini ternodai oleh darah dan air mata. Sejak 10 Oktober, gencatan senjata yang rapuh ini telah berulang kali dilanggar oleh serangan Israel, menyebabkan lebih dari 280 warga Palestina kehilangan nyawa.
Kekerasan yang terus berlanjut ini menimbulkan pertanyaan serius tentang masa depan perdamaian di wilayah tersebut. Apakah gencatan senjata hanya menjadi ilusi, ataukah ada harapan nyata untuk mengakhiri siklus kekerasan yang telah lama menghantui Gaza? Dunia menanti jawaban, sementara Gaza terus berduka.

