Informasi mengejutkan datang dari Teheran. Internationalmedia.co.id melaporkan, seorang pejabat tinggi Iran, Mohammad Sadr, anggota Majelis Penegasan Kebijaksanaan Iran, melontarkan tuduhan serius terhadap Rusia. Sadr menuduh Moskow membocorkan informasi intelijen mengenai posisi pertahanan udara Iran kepada Israel selama konflik pada Juni lalu. Tuduhan ini disampaikan Sadr dalam pernyataan pers pada Minggu (24/8) lalu, tanpa disertai bukti pendukung.
Pernyataan Sadr ini terbilang berani, mengingat hubungan antara Iran dan Rusia yang selama ini terkesan dekat. Ia bahkan mengecam aliansi tersebut, menyebutnya tidak berguna setelah melihat bagaimana Rusia bersikap selama perang 12 hari antara Iran dan Israel. Lebih jauh, Sadr juga menuduh Israel sebagai dalang di balik kematian mantan Presiden Ebrahim Raisi dalam kecelakaan helikopter Mei 2024 lalu. Ia tegas menyatakan, "Sejak awal saya mengatakan ini adalah pembunuhan… yang dilakukan oleh Israel."

Konflik Iran-Israel pada pertengahan Juni lalu memang meninggalkan luka mendalam. Serangan Israel yang menargetkan fasilitas nuklir, militer, dan permukiman menewaskan lebih dari 1000 orang, termasuk komandan senior dan ilmuwan nuklir Iran. Iran membalas dengan serangan rudal dan drone, menyebabkan puluhan korban jiwa di Israel. Amerika Serikat sempat ikut campur, mengebom situs nuklir Iran sebelum akhirnya memediasi gencatan senjata pada 24 Juni.
Menariknya, selama konflik tersebut, Rusia hanya sebatas mengutuk serangan Israel tanpa mengambil tindakan militer atau diplomatik berarti. Padahal, Januari lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian baru saja menandatangani perjanjian kemitraan strategis, termasuk kerja sama militer. Namun, perjanjian tersebut rupanya tak cukup kuat untuk mencegah kebocoran informasi penting yang kini menjadi sorotan. Tuduhan Iran ini tentu akan memicu pertanyaan besar tentang sejauh mana kepercayaan dapat diberikan kepada sekutu, terutama dalam konteks pertahanan dan keamanan nasional.
