Internationalmedia.co.id – News – Ketegangan di Timur Tengah memuncak setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman serius untuk mengebom fasilitas vital Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan. Menanggapi ultimatum tersebut, otoritas Iran menyerukan kepada warganya, khususnya kaum muda, untuk membentuk ‘rantai manusia’ simbolis sebagai perisai hidup di sekitar pembangkit listrik utama. Seruan ini muncul pada Selasa (7/4/2026), menyusul tenggat waktu yang ditetapkan Trump.
Kementerian Olahraga dan Pemuda Iran secara resmi menginisiasi gerakan ini, mengajak para atlet, seniman, dan mahasiswa untuk berpartisipasi mulai Selasa siang. Wakil Menteri Urusan Pemuda Iran, Alireza Rahimi, menjelaskan bahwa ide "rantai manusia" ini berasal dari inisiatif para pemuda sendiri. Ia menyebutnya sebagai "aksi simbolis" yang menunjukkan komitmen generasi muda Iran untuk melindungi infrastruktur negara dan membangun masa depan yang cerah. Aksi ini dinamakan ‘Rantai Manusia Pemuda Iran untuk Masa Depan yang Cerah’.

Ancaman Trump datang bersama ultimatum keras: Iran harus menyetujui kesepakatan gencatan senjata, melepaskan senjata nuklir, dan membuka kembali Selat Hormuz yang sebelumnya ditutup akibat serangan AS. Jika tidak, Teheran akan menghadapi serangan besar-besaran terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur vital lainnya. Tenggat waktu yang diberikan adalah Selasa (7/4) malam waktu AS, atau Rabu (8/4) dini hari waktu Iran.
Para pejabat Iran tidak tinggal diam. Seorang ajudan Presiden Iran menanggapi ultimatum Trump dengan cibiran, menyebut ancaman tersebut sebagai "hinaan dan omong kosong" yang lahir dari "keputusasaan dan kemarahan semata." Reaksi ini mencerminkan sikap menolak tunduk pada tekanan AS.
Sementara itu, di tengah blokade internet yang telah berlangsung lebih dari lima minggu, Internationalmedia.co.id berhasil berbicara dengan beberapa warga Iran melalui laporan BBC. Meskipun sebagian besar dari mereka menyatakan ketidakpuasan terhadap pemerintahan saat ini, ancaman Trump telah memicu kekhawatiran yang mendalam di kalangan masyarakat sipil. Identitas mereka dirahasiakan demi keamanan.
Kasra, seorang pemuda berusia 20-an dari Teheran, mengungkapkan keputusasaannya. "Rasanya kami semakin tenggelam dalam rawa-rawa. Apa yang bisa kami lakukan sebagai orang biasa? Kami tidak berdaya," ujarnya. Ia membayangkan skenario terburuk: hidup tanpa air dan listrik. Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, laporan menunjukkan warga mulai menimbun persediaan, meskipun televisi pemerintah berusaha menampilkan citra toko-toko yang penuh stok. Mina, juga dari Teheran, menceritakan ibunya yang mengisi setiap botol dengan air, "Saya tidak tahu apa yang akan kami lakukan sekarang. Saya membenci Trump dari lubuk hati terdalam."
Ironisnya, beberapa warga Iran awalnya melihat intervensi AS-Israel sebagai bentuk "bantuan" yang pernah dijanjikan Trump saat demonstrasi anti-pemerintah mematikan melanda Iran Januari lalu. Kala itu, Trump menyatakan "bantuan sedang dalam perjalanan," namun tidak bertindak saat pasukan keamanan Iran menindak keras demonstran, menewaskan ribuan orang dan menangkap puluhan ribu lainnya, menurut Human Rights Activists News Agency (Hrana). Kini, pandangan itu berubah drastis. Serangan terhadap infrastruktur energi dianggap sebagai "garis merah" yang tidak dapat ditoleransi.
Arman, seorang pemuda 20-an dari Karaj, menegaskan, "Saya bersumpah, menghantam pembangkit listrik hanya akan melumpuhkan negara dan justru menguntungkan Republik Islam." Ia yang tinggal dekat pembangkit listrik terbesar di Karaj, khawatir serangan semacam itu hanya akan membawa penderitaan bagi rakyat biasa. Lebih dari 30 universitas, termasuk Universitas Shahid Beheshti di Teheran, juga dilaporkan terkena dampak ketegangan ini.
Dampak ekonomi juga menjadi momok. Bahman, seorang insinyur pengawas bangunan di Teheran, merasakan langsung kesulitan ini. "Saya sudah tidak punya rutinitas lagi, bahkan tidak bisa bekerja. Beberapa perusahaan kecil sudah mulai memberhentikan karyawan mereka," keluhnya. Ia khawatir Iran akan membalas serangan, yang berpotensi memperburuk krisis ekonomi dan keamanan di seluruh wilayah.
Dengan tenggat waktu yang semakin dekat dan ketegangan yang terus meningkat, masa depan Iran berada di ambang ketidakpastian, di mana rakyatnya diminta menjadi garda terdepan menghadapi ancaman yang tak terduga.

