Internationalmedia.co.id – News – Ketegangan di Timur Tengah memuncak setelah Amerika Serikat (AS) bersama Israel melancarkan serangkaian serangan terkoordinasi terhadap berbagai target di Iran. Aksi militer ini terjadi hanya beberapa jam sebelum berakhirnya ultimatum Presiden AS Donald Trump yang menuntut Teheran membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang sebelumnya ditutup pasca-serangan AS-Israel.
Menurut laporan yang diterima Internationalmedia.co.id dari pejabat AS dan Gedung Putih pada Selasa (7/4/2026), militer Amerika Serikat memfokuskan serangannya pada target-target militer di Pulau Kharg. Serangan ini secara spesifik tidak menyasar fasilitas minyak, melainkan infrastruktur militer. Pulau strategis ini bukan kali pertama menjadi sasaran; sebelumnya, pada 13 Maret, Komando Pusat AS (CENTCOM) telah menghantam 90 target di sana, termasuk fasilitas penyimpanan ranjau laut, bunker rudal, dan beberapa situs militer lainnya.

Secara paralel, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melancarkan serangan masif di berbagai wilayah Iran, secara spesifik menargetkan infrastruktur transportasi vital. Jalur kereta api, jembatan, dan jalan raya utama menjadi sasaran utama. Sumber intelijen Israel mengindikasikan bahwa jalur-jalur ini krusial bagi Iran untuk memobilisasi pasokan amunisi, rudal, dan peluncur roket. Dalam pernyataan resminya pada hari yang sama, IDF bahkan mengeluarkan imbauan tegas kepada warga Iran untuk menghindari perjalanan kereta api di seluruh penjuru negeri.
Dampak serangan ini memakan korban jiwa. Kantor berita semi-resmi Mehr melaporkan dua warga sipil tewas dalam insiden penargetan jembatan kereta api di kota Kashan. Palang Merah Iran juga mengonfirmasi adanya serangan udara di jalur kereta api Karaj, lengkap dengan rekaman video yang menunjukkan petugas medis tengah mengevakuasi korban luka di lokasi kejadian. Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), media pemerintah Iran, melaporkan sebuah jembatan di wilayah barat Provinsi Qom juga menjadi sasaran empuk proyektil.
Beberapa ruas jalan vital turut terdampak, termasuk sebagian jalan raya Tabriz-Teheran dan jalan-jalan di kota Ahvaz yang dihantam proyektil dari kedua negara penyerang. Kantor berita IRNA mengabarkan penutupan total jalan raya antara Tabriz dan Zanjan akibat serangan berkelanjutan, serta jalan Qareh Chaman-Mianeh yang tidak dapat dilalui dari kedua arah. Yang lebih mengkhawatirkan, laporan dari media Iran juga menyebutkan bahwa fasilitas sipil, termasuk area perumahan dan pusat komersial, tidak luput dari sasaran serangan.
Ultimatum Trump sendiri sangat jelas: Iran harus menyetujui kesepakatan gencatan senjata atau bersiap menghadapi serangan skala besar terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur krusial lainnya. Tuntutan utamanya mencakup pelepasan program senjata nuklir Teheran dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Batas waktu yang ditetapkan Trump adalah Selasa (7/4) pukul 20.00 Waktu Timur AS, yang setara dengan Rabu (8/4) dini hari pukul 03.30 waktu setempat di Iran. Dengan batas waktu yang telah terlewati, Iran kini berada di bawah tekanan militer yang belum pernah terjadi sebelumnya.

