Internationalmedia.co.id – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Komandan Garda Revolusi Iran (IRGC), Jenderal Mohammad Pakpour, mengeluarkan peringatan keras kepada Israel dan Amerika Serikat (AS) untuk tidak melakukan "kesalahan perhitungan" yang bisa berakibat fatal. Pernyataan ini muncul setelah gelombang unjuk rasa besar-besaran melanda Iran, dan di tengah spekulasi tentang kemungkinan aksi militer AS terhadap Teheran.
Pakpour menegaskan bahwa pasukan IRGC dalam kondisi siaga tinggi, dengan "jari di pelatuk", siap merespon segala bentuk agresi. Peringatan ini menjadi lebih signifikan mengingat dukungan Washington terhadap Israel dalam konflik 12 hari antara Teheran dan Tel Aviv pada Juni tahun lalu.

Unjuk rasa yang berlangsung selama dua pekan sejak akhir Desember lalu telah mengguncang kepemimpinan ulama di bawah Ayatollah Ali Khamenei. Meskipun aksi protes mereda setelah tindakan keras, ketegangan tetap tinggi. Pakpour memperingatkan Israel dan AS untuk belajar dari pengalaman sejarah dan menghindari nasib yang lebih menyakitkan.
"Korps Garda Revolusi Islam dan Iran tercinta telah menempatkan jari mereka di pelatuk, lebih siap dari sebelumnya, siap melaksanakan perintah dan tindakan panglima tertinggi," tegas Pakpour, merujuk pada Khamenei. Pernyataan ini disampaikan dalam rangka memperingati hari nasional untuk merayakan IRGC, pasukan yang bertugas melindungi revolusi Islam 1979.
IRGC sendiri telah menjadi sorotan karena perannya dalam penindakan demonstran di Iran, dan telah dikenai sanksi oleh sejumlah negara, termasuk Australia, Kanada, dan AS. Pakpour mengambil alih jabatan Komandan IRGC setelah pendahulunya tewas dalam serangan Israel tahun lalu, yang mengungkap kerentanan intelijen Iran.
Sementara itu, Presiden Israel Isaac Herzog menyatakan bahwa "masa depan rakyat Iran hanya dapat terwujud melalui perubahan rezim" dan menyebut rezim Ayatollah berada dalam situasi yang rapuh. Situasi ini semakin meningkatkan ketegangan di kawasan dan memicu kekhawatiran akan konflik yang lebih luas.
