Trump menyampaikan ancaman ini dalam wawancaranya dengan majalah Time pada 15 Oktober lalu. Menurutnya, tindakan aneksasi akan merusak dukungan yang telah dibangun dengan negara-negara Arab. "Israel akan kehilangan semua dukungannya dari Amerika Serikat jika itu terjadi," tegas Trump.
Trump juga mengungkapkan keyakinannya bahwa Arab Saudi akan segera bergabung dengan Perjanjian Abraham, sebuah inisiatif normalisasi hubungan antara Israel dan negara-negara Arab. Ia meyakini bahwa penyelesaian masalah Gaza dan ancaman Iran akan mempermudah langkah tersebut.

Di sisi lain, Trump juga akan mempertimbangkan pembebasan tokoh Palestina terkemuka, Marwan Barghouti, sebagai bagian dari upaya perdamaian. Barghouti, seorang tokoh Fatah, termasuk dalam daftar tahanan yang ingin dibebaskan Hamas sebagai bagian dari kesepakatan Gaza.
Peringatan Trump ini muncul di tengah upaya intensif AS untuk memperkuat gencatan senjata di Gaza. Namun, di saat yang sama, anggota parlemen Israel justru mengajukan rancangan undang-undang yang membuka jalan bagi aneksasi Tepi Barat, sebuah tindakan yang dikecam oleh Wakil Presiden AS James David Vance sebagai "aksi politik yang sangat bodoh". Sekretaris Luar Negeri AS Maerco Rubio juga memperingatkan Israel agar tidak mencaplok Tepi Barat, karena tindakan tersebut dapat mengancam gencatan senjata Gaza.
