Monday, 04 March 2024

Search

Monday, 04 March 2024

Search

Ibu Ini Pingsan Saat Bertemu Anaknya yang Terpisah 37 Tahun Lamanya

Ibu dan anak akhirnya bertemu lagi usai 37 tahun berpisah.

Suminah (81) tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat bertemu dengan anaknya, Hernik Martika (65), yang telah berpisah dengannya selama 37 tahun. Tangis Suminah pecah dan sempat pingsan. Momen haru ini terjadi di Mapolresta Malang Kota. Kapolresta Malang Kota Kombes Budi Hermanto mengungkapkan, Hernik meninggalkan rumah sejak masih berusia 17 tahun.

Perempuan itu memilih bekerja ke luar negeri dan tidak pernah kembali lagi ke keluarganya di Kota Malang. Sekembalinya dari Malaysia, ia malah pulang ke Nusa Tenggara Timur (NTT), kampung halaman mantan suaminya.

“37 Tahun tidak ada komunikasi sama sekali, lost contact dengan adik-adik dan ibunya. Kini mereka kembali bertemu karena kuatnya silaturahmi tidak memandang suku, ras, agama, ataupun warna kulit,” kata Budi.

Budi menuturkan, saat kepolisian berkomunikasi dengan keluarga Hernik mereka sempat terkejut dan tidak percaya bahwa Hernik masih hidup.

“Karena sudah dianggap hilang selama 37 tahun, respons ibunya sampai haru dan sedih. Ini wujud sinergitas antara komunitas dengan kepolisian, ini tugas kemanusiaan yang memang harus kita lakukan,” tutur Budi.

Perpisahan ibu dan anak itu bermula ketika puluhan tahun lalu Hernik pergi dari rumah tanpa pamit. Sekitar 2 pekan lalu Hernik diketahui berada di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan kondisi memprihatinkan.

Hernik yang merupakan warga kelahiran Jalan Bayam Dalam, Kelurahan Bumiayu, Kedungkandang, Kota Malang, dikenal dengan nama Sudarmi saat dirinya hidup di NTT.

Polisi menemukan Hernik hidup di pinggir jalan dan tidur di emperan pertokoan. Ia ditemukan di Taman Kota Soe dalam keadaan hanya membawa satu pasang pakaian. Polisi akhirnya mengajak Hernik kembali ke Kota Malang.

Bhabinkamtibmas Polres Timor Tengah Selatan Aipda Catur Indra Iriawan turut mengantar Hernik ke Mapolresta Malang Kota. Dia menceritakan, mulanya dia menerima pengaduan orang telantar berasal dari Jawa. Hernik pun dibawa ke penampungan komunitas etnis Jawa di Timor Tengah Selatan.

“Setelah itu kami pulihkan keadaan beliau yang dulunya masih tidak maksimal seperti tidak pada umumnya. Kemudian kami mendapat identitas sebenarnya,” ujar Catur.

Polisi akhirnya mengetahui identitas Hernik yang sebenarnya beserta alamat asalnya. Pihak Catur menghubungi kepolisian di Kota Malang dibantu Komunitas Anak Bangsa untuk menemukan keluarga Hernik di Kota Malang.

“Menghubungi Bhabinkamtibmas setempat (di Kota Malang) yaitu bapak Heri dan bapak Awang, setelah itu berkomunikasi lagi, bekerja sama dengan Komunitas Anak Bangsa, lalu menemukan keluarganya yang selama ini sudah 37 tahun ditinggalkan,” bebernya.

Ketua Komunitas Anak Bangsa Yuyun Kartikasari menambahkan, Hernik sempat mengadu nasib ke Negeri Jiran Malaysia selama kurang lebih 22 tahun lamanya. Selama itu ia menjadi pekerja migran.

Di Malaysia, Hernik sudah berkeluarga dengan seorang laki-laki. Namun seiring berjalannya waktu, Hernik dibawa pulang ke NTT untuk menemui keluarga suaminya. Namun takdir berkata lain, Hernik dan suaminya kini telah berpisah.

“Kemudian Bu Hernik mencari penghasilan sendiri menjadi buruh cuci baju, pembantu rumah tangga. Namun nasibnya, akhirnya ekonomi jatuh, terus tidur di pinggir jalan setiap hari dan tidak memiliki tempat tinggal,” katanya.

Yuyun menyampaikan kini pihak keluarga percaya bahwa perempuan yang dibawa pulang dari NTT itu adalah Hernik. Mereka telah mencocokkan tanda lahir yang dimiliki Hernik, yang ada di matanya.

“Identitas diketahui karena keluarga yang mencari mengatakan ada ciri-ciri di mata sebelah kiri ada titik putih. Akhirnya keluarga percaya,” katanya.

Sayangnya, Hernik tidak bisa banyak diajak bicara. Saat ini kondisi psikisnya belum pulih. Dia disebut sempat mengalami syok akibat pengalaman pribadi yang telah dialami. ***

Osmar Siahaan

Berita Terbaru

Baca juga:

Follow International Media