Internationalmedia.co.id – News – Sebuah serangan drone Israel dilaporkan menghantam wilayah Bekaa di Lebanon pada Rabu (22/4) dini hari waktu setempat. Insiden ini ironisnya terjadi di tengah gencatan senjata rapuh yang seharusnya berlaku antara Tel Aviv dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Akibat serangan mendadak tersebut, satu orang dilaporkan tewas dan dua lainnya mengalami luka-luka.
Serangan udara Israel ini dilancarkan terhadap Lebanon hanya sehari setelah Hizbullah melancarkan serangan ke wilayah Israel bagian utara pada Selasa (21/4). Kantor berita Lebanon, National News Agency (NNA), melaporkan bahwa drone Israel menargetkan area pinggiran al-Jabour di Bekaa Barat.

"Satu orang tewas dan dua orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan yang dilancarkan oleh sebuah drone musuh pada subuh di pinggiran al-Jabour di Bekaa Barat," demikian laporan NNA, yang menggarisbawahi dampak langsung dari eskalasi ini.
Hizbullah mengklaim serangan roket dan drone mereka pada Selasa malam merupakan respons langsung terhadap "pelanggaran gencatan senjata yang terang-terangan" oleh Israel. Kelompok tersebut menuduh Israel melakukan "serangan terhadap warga sipil dan penghancuran rumah serta desa-desa mereka" di Lebanon. Dalam pernyataannya, Hizbullah menegaskan bahwa tindakan mereka bertujuan "untuk membela Lebanon dan rakyatnya," dengan target serangan diklaim sebagai sumber tembakan artileri dari Israel.
Sementara itu, militer Israel mengklaim bahwa Hizbullah "meluncurkan beberapa roket" ke arah tentara mereka yang ditempatkan di Lebanon bagian selatan. Sebagai respons, pasukan Israel disebut membalas dengan menyerang peluncur roket Hizbullah tersebut. NNA juga melaporkan adanya tembakan artileri dan aktivitas penghancuran yang dilakukan oleh pasukan Israel di beberapa kota di wilayah Lebanon bagian selatan, yang saat ini diduduki pasukan Tel Aviv.
Lebanon telah terperosok lebih dalam ke dalam pusaran konflik Timur Tengah sejak 2 Maret lalu, menyusul serangan Hizbullah terhadap wilayah Israel. Sejak saat itu, rentetan serangan udara Israel telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan menyebabkan lebih dari satu juta orang mengungsi di Lebanon. Tel Aviv juga telah mengerahkan pasukan darat ke wilayah selatan Lebanon, dekat perbatasan negaranya.
Gencatan senjata selama sepuluh hari, yang dimediasi oleh Amerika Serikat, telah diberlakukan sejak Jumat (17/4) pekan lalu. Namun, keberadaan pasukan Israel masih terasa kuat di wilayah Lebanon bagian selatan. Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, sebelumnya menegaskan Tel Aviv akan mengerahkan "kekuatan penuh" jika merasa terancam, menunjukkan ketegangan yang terus membayangi upaya perdamaian di kawasan tersebut.
