Internationalmedia.co.id – News melaporkan, dunia internasional dihadapkan pada gelombang ketegangan baru menyusul serangan mendadak Amerika Serikat (AS) terhadap Caracas, ibu kota Venezuela, pada dini hari Sabtu (3/1) waktu setempat. Operasi militer yang bertujuan menggulingkan Presiden Nicolas Maduro tersebut memicu serangkaian reaksi global, mulai dari ancaman keras Presiden AS Donald Trump terhadap negara-negara lain, peluncuran rudal hipersonik Korea Utara, hingga seruan perlawanan dari putra Maduro. Berbagai insiden ini menandai Senin (5/1/2026) sebagai hari penuh gejolak di panggung politik dunia.
Setelah serangan awal yang mengguncang Caracas, Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman serius. Berbicara kepada awak media di dalam pesawat kepresidenan Air Force One pada Minggu (4/1) waktu setempat, Trump menegaskan kemungkinan serangan militer kedua terhadap Venezuela. Ancaman ini ditujukan kepada anggota pemerintahan yang masih tersisa, menuntut kerja sama penuh dengan Washington untuk "memperbaiki" kondisi negara tersebut. "Jika mereka tidak berperilaku baik," ujar Trump, mengindikasikan bahwa masa depan Venezuela sangat bergantung pada kepatuhan mereka terhadap tuntutan AS, menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

Ancaman Trump tidak berhenti di Venezuela. Presiden Kolombia Gustavo Petro dengan tegas menolak tuduhan dan ancaman serupa dari Donald Trump yang menuduhnya sebagai pengedar narkoba. Dalam kesempatan yang sama di Air Force One, Trump menyatakan bahwa Kolombia adalah "negara yang sangat sakit" dan "dijalankan oleh orang sakit yang suka membuat kokain dan menjualnya ke Amerika Serikat." Ia bahkan menambahkan, "Dia memiliki pabrik kokain dan tidak akan melakukannya lagi dalam waktu sangat lama," sebuah pernyataan yang memicu kemarahan Petro.
Di tengah memanasnya situasi global, Korea Utara turut menunjukkan kekuatannya. Pemimpin Kim Jong Un dilaporkan mengawasi langsung peluncuran rudal hipersonik "mutakhir" pada Senin (5/1), yang disebut sebagai persiapan Pyongyang untuk menghadapi potensi perang. Media pemerintah Korut menekankan bahwa "krisis geopolitik" saat ini, yang secara tersirat merujuk pada agresi AS di Venezuela, membuat uji coba ini semakin mendesak. Peluncuran ini, yang merupakan uji coba rudal pertama Korut tahun ini, telah terdeteksi oleh Korea Selatan dan Jepang pada Minggu (4/1) di dekat Pyongyang. Momen ini juga bertepatan dengan keberangkatan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung ke China untuk pertemuan puncak, di mana ia berharap dapat memanfaatkan pengaruh Beijing untuk meredakan ketegangan dengan Pyongyang.
Ketegangan juga merambah Asia Timur. Pemerintah China mengeluarkan imbauan kewaspadaan bagi warganya di Jepang, menyusul klaim adanya insiden penargetan terhadap warga negara China di berbagai wilayah. Imbauan ini, yang dirilis Kedutaan Besar China di Tokyo pada Sabtu (3/1) namun baru dilaporkan Senin (5/1), muncul di tengah memburuknya hubungan diplomatik antara Beijing dan Tokyo. Pemicunya adalah komentar kontroversial Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengenai Taiwan, yang dianggap China sebagai bentuk intervensi dalam urusan internalnya. Beijing bahkan menyarankan warganya untuk menunda perjalanan ke Jepang dalam waktu dekat.
Di Venezuela sendiri, penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh AS atas tuduhan narkoterorisme memicu reaksi keras dari putranya, Nicolas Maduro Guerra. Melalui pesan audio yang dibagikan di media sosial pada Minggu (4/1), anggota Kongres berusia 35 tahun itu menyerukan seluruh rakyat Venezuela untuk turun ke jalan. "Kalian akan melihat kami di jalanan, kalian akan melihat kami di sisi rakyat, kalian akan melihat kami mengibarkan bendera martabat," tegas Guerra, menyerukan solidaritas dan perlawanan terhadap penangkapan ayahnya.
Rentetan peristiwa ini mengindikasikan bahwa dunia sedang memasuki fase ketidakpastian yang tinggi, dengan berbagai aktor global menunjukkan kekuatan dan sikap tegas di tengah perubahan lanskap geopolitik yang dinamis.
