Jakarta – Panggung geopolitik global kembali diwarnai ketegangan signifikan pada Selasa (6/1/2026) setelah Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, melontarkan kecaman keras terhadap wacana pencaplokan Greenland oleh Amerika Serikat. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, Frederiksen secara tegas memperingatkan bahwa jika AS merealisasikan ambisinya untuk menguasai pulau Arktik yang strategis dan kaya mineral tersebut, hal itu dapat berarti berakhirnya aliansi militer NATO. Komentar tajam ini muncul sebagai respons langsung terhadap pernyataan Presiden AS Donald Trump yang kembali menyerukan agar Greenland berada di bawah kendali Washington, sebuah seruan yang dilontarkan tak lama setelah serangan militer AS ke Venezuela akhir pekan lalu.
Operasi militer AS di Caracas, ibu kota Venezuela, yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, telah mengguncang komunitas internasional. Peristiwa ini, yang menjadi pemicu seruan Trump mengenai Greenland, secara langsung meningkatkan kekhawatiran di Denmark dan Greenland, mengingat status Greenland sebagai wilayah semi-otonom Kerajaan Denmark dan bagian dari aliansi NATO.

Terkait serangan militer di Venezuela, Presiden Trump secara kontroversial menyinggung "Doktrin Monroe", sebuah kebijakan luar negeri AS dari abad ke-19, sebagai justifikasi. Doktrin yang dicetuskan oleh Presiden ke-5 AS, James Monroe, pada tahun 1832 ini, berupaya memperkuat lingkup pengaruh Amerika Serikat di benua Amerika. Trump, dalam pernyataannya yang dikutip internationalmedia.co.id, menyebut operasi yang berujung pada penangkapan Presiden Maduro di Caracas pada Sabtu (3/1) sebagai "pembaruan Doktrin Monroe", sebuah klaim yang memicu gelombang kritik internasional.
Situasi keamanan di Venezuela semakin memanas dengan laporan rentetan tembakan yang terdengar di dekat Istana Kepresidenan Miraflores di pusat kota Caracas pada Senin (5/1) tengah malam. Insiden ini, yang terjadi hanya beberapa hari pasca-serangan AS dan penangkapan Maduro, menambah daftar panjang ketidakstabilan di negara tersebut. Meskipun demikian, sebuah sumber yang dekat dengan pemerintah Venezuela, seperti dilaporkan internationalmedia.co.id, menyatakan situasi terkendali, seraya menyebutkan deteksi beberapa drone tak teridentifikasi yang mengudara di atas istana.
Bergeser ke kawasan Asia Tenggara, hubungan antara Kamboja dan Thailand kembali memanas. Militer Thailand menuduh pasukan Kamboja melanggar gencatan senjata yang telah berlangsung selama sepuluh hari. Menurut pernyataan militer Thailand yang dikutip internationalmedia.co.id, pasukan Kamboja membombardir provinsi perbatasan Ubon Ratchathani dengan mortir pada Selasa pagi, menyebabkan seorang tentara Thailand terluka akibat pecahan peluru dan harus segera dievakuasi untuk perawatan medis.
Dari ranah politik Malaysia, kabar mengenai mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad menjadi sorotan. Tokoh berusia 100 tahun itu dilarikan ke rumah sakit pada Selasa (6/1) setelah terjatuh di kediamannya. Ajudan beliau, Sufi Yusoff, mengonfirmasi bahwa Mahathir dibawa ke Institut Jantung Nasional untuk menjalani "observasi". Kesehatan Mahathir memang telah menjadi perhatian publik dalam beberapa tahun terakhir, termasuk perawatan sebelumnya akibat kelelahan pasca-perayaan ulang tahunnya yang ke-100 pada Juli tahun lalu.
Rentetan peristiwa ini menggarisbawahi dinamika geopolitik global yang penuh tantangan dan ketidakpastian di awal tahun 2026.
