Internationalmedia.co.id melaporkan, sebuah insiden menegangkan terjadi di perbatasan Thailand-Myanmar. Sebuah drone milik junta militer Myanmar jatuh di wilayah Thailand. Kejadian ini memicu protes keras dari pemerintah Thailand yang merasa terancam oleh konflik bersenjata di negara tetangganya.
Insiden yang terjadi Senin (21/7) lalu ini melibatkan sebuah drone "kamikaze" yang ditemukan di hutan Provinsi Tak, sekitar 15 kilometer dari perbatasan. Militer Thailand menyatakan dalam rilis resminya, Rabu (23/7), bahwa tidak ada korban jiwa maupun kerusakan properti yang dilaporkan. Namun, investigasi awal menunjukkan drone tersebut milik militer Myanmar dan bertujuan menyerang kelompok perlawanan, namun kehilangan kendali dan jatuh di wilayah Thailand. Pihak berwenang Thailand telah menjinakkan bahan peledak di drone tersebut dan melayangkan protes resmi melalui jalur diplomatik perbatasan.

Konflik di Myanmar yang telah berlangsung lebih dari empat tahun, semakin intensif dengan penggunaan drone oleh kedua belah pihak, baik junta militer maupun kelompok pemberontak. Laporan dari organisasi pemantau Armed Conflict Location and Event Data (ACLED) menempatkan Myanmar di peringkat ketiga dunia, setelah Ukraina dan Rusia, dalam hal jumlah serangan drone. Laporan tersebut juga menyoroti aksesibilitas, kemudahan modifikasi, dan biaya drone yang rendah sebagai faktor pendorong penggunaan senjata tersebut dalam konflik. Kejadian ini semakin mempertegas kompleksitas dan bahaya konflik di Myanmar yang berdampak hingga ke negara tetangga.
