Internationalmedia.co.id – News – Penyelidikan kasus penemuan ratusan senjata di sebuah sekolah swasta di Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, memasuki babak baru. Tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri kembali diterjunkan ke lokasi untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) secara menyeluruh, termasuk pengujian DNA di sejumlah ruangan krusial.
Ipda Alpino De Tech, Kanit Krimum Polres Metro Jakarta Selatan, menjelaskan bahwa Puslabfor mengerahkan dua tim khusus. "Satu tim bertugas menguji sampel DNA, sementara tim lainnya fokus pada pemeriksaan barang-barang yang berkaitan dengan senjata api, senjata angin, amunisi, serta suku cadangnya," terang Alpino kepada wartawan pada Selasa (11/8/2026). Pemeriksaan ini bertujuan untuk memastikan tidak ada lagi barang berbahaya yang terselip di lingkungan sekolah.

Tiga ruangan menjadi fokus utama pengambilan sampel DNA: ruangan mantan ketua yayasan, ruangan sekretaris, dan ruangan sarana dan prasarana. "Sampel DNA dari ketiga ruangan sudah diambil semua. Tujuannya untuk melacak siapa saja yang pernah masuk atau berkontaminasi di dalam ruangan-ruangan tersebut," imbuh Alpino, mengindikasikan upaya polisi untuk mengidentifikasi individu terkait.
Dari pemeriksaan terkini, polisi berhasil menyita total 30 item. Barang-barang tersebut meliputi airsoft gun, amunisi, magasin airsoft gun, serta berbagai suku cadang seperti sasaran tembak dan gagang senjata.
Setelah serangkaian pemeriksaan oleh tim Puslabfor, garis polisi yang sebelumnya terpasang di lokasi telah dilepas. Hal ini memungkinkan pihak yayasan untuk kembali memanfaatkan area tersebut sesuai ketentuan. "Setelah diperiksa oleh pihak Puslabfor, baik DNA maupun bagian senjata, kami kemudian membuka police line-nya agar bisa dimanfaatkan oleh pihak yayasan," kata Alpino.
Sebagai informasi, penemuan senjata di sekolah ini pertama kali menghebohkan publik pada 10-11 Juli 2026, dengan total 996 pucuk senjata ditemukan. Penemuan lanjutan terjadi pada Rabu (5/8) malam. Dari jumlah fantastis tersebut, 995 pucuk diidentifikasi sebagai senapan angin, sementara satu pucuk lainnya adalah senjata api jenis Franchi SPA, SPAS-15 kaliber 12 GA, yang disebut milik pria berinisial DS, seorang direktur di PT Lokta Karya Perbakin. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto sebelumnya menegaskan, "Perlu kita luruskan bersama, penemuan barang yang diduga berupa senjata. Ada 996 yang ditemukan, 995 merupakan senjata angin."
Konflik Internal Yayasan Jadi Pemicu
Penyelidikan mendalam mengarah pada dugaan kuat bahwa temuan mengejutkan ini berakar dari konflik internal kepengurusan yayasan sekolah. Alhadid, kuasa hukum dari eks ketua yayasan berinisial IWD, mengungkapkan bahwa pihak yayasan kubu N sebetulnya sudah mengetahui keberadaan senjata-senjata yang disimpan di gudang tersebut. Ia menyatakan keheranannya atas sikap pihak sekolah yang kini seolah-olah baru mengetahui asal-usul senjata. "Mereka tahu juga sudah ada izinnya," ungkap Alhadid, menduga persoalan ini mencuat setelah pembina yayasan sebelumnya diberhentikan secara sepihak.
Di sisi lain, pihak yayasan melalui kuasa hukumnya, Hermawanto, mengakui adanya sengketa kepengurusan. Menurut Hermawanto, konflik inilah yang justru membuka jalan bagi penemuan senjata. "Iya, karena tanpa ada sengketa itu kami nggak bisa masuk. Justru karena sengketa itu, kami kemudian memberhentikan dia ketua," jelasnya. Setelah IWD diberhentikan, akses ke ruangannya terbuka. Di sanalah, tak hanya ratusan senjata berbagai jenis ditemukan, tetapi juga narkotika hingga 30 compact disk (CD) porno. "Seandainya tidak ada sengketa, mungkin senjata itu masih ada di sini," pungkas Hermawanto.
Pihak kepolisian masih terus melakukan serangkaian pendalaman untuk mengungkap tuntas seluruh aspek terkait kasus penemuan senjata di sekolah swasta ini.
