Internationalmedia.co.id – Calon presiden (capres) Peru, Rafael Belaunde, mengalami kejadian menegangkan saat mobilnya diberondong tembakan oleh orang tak dikenal di selatan Lima. Insiden dramatis ini terjadi ketika Belaunde tengah melakukan perjalanan di kota Cerro Azul, sekitar 130 kilometer dari ibu kota Peru.
Menurut laporan dari AFP, Rabu (3/12/2025), serangan mendadak ini membuat Belaunde, yang berusia 50 tahun, tak tinggal diam. Dengan sigap, ia membalas tembakan para pelaku yang diperkirakan berjumlah dua orang dan mengendarai sepeda motor. Jenderal Oscar Arriola, kepala polisi setempat, mengungkapkan bahwa setidaknya delapan hingga sembilan tembakan diarahkan ke SUV yang dikendarai Belaunde.

Aksi saling tembak ini terekam dalam tayangan televisi lokal, memperlihatkan kaca depan mobil Belaunde hancur berantakan akibat terjangan peluru. Pecahan kaca tersebut menyebabkan luka ringan di wajah dan pakaian Belaunde. Beruntung, mantan menteri energi ini hanya mengalami "goresan" akibat insiden tersebut.
"Setidaknya 12 tembakan" dilepaskan oleh Belaunde ke arah para penyerang, ujar Arriola kepada Internationalmedia.co.id. Ajaibnya, tidak ada laporan mengenai korban luka tembak dalam peristiwa ini. Belaunde, yang juga merupakan cucu dari mantan presiden Fernando Belaunde, mengaku kepada polisi bahwa ia tidak menerima ancaman apapun sebelum serangan terjadi.
Rafael Belaunde adalah salah satu dari setidaknya 12 kandidat yang bersaing dalam pemilihan umum yang dijadwalkan pada 12 April mendatang. Saat ini, namanya masih berada di peringkat bawah dalam jajak pendapat. Sementara itu, mantan wali kota Lima, Rafael Lopez Aliaga, dan Keiko Fujimori, putri mendiang mantan presiden Alberto Fujimori, menjadi kandidat yang diunggulkan.
Keiko Fujimori mengecam keras aksi penembakan tersebut melalui media sosial X. "Saya mengutuk keras tindakan kriminal ini, sebuah cerminan kekerasan yang menimpa ribuan warga Peru setiap harinya. Kita tidak bisa menganggap remeh tindakan kriminal ini, yang harus diberantas dengan kekuatan hukum penuh," tulisnya.
Peru sendiri tengah menghadapi masalah serius terkait gelombang pemerasan yang telah merenggut banyak nyawa, terutama di kalangan pengemudi bus. Beberapa dari mereka bahkan ditembak mati karena perusahaan tempat mereka bekerja menolak membayar uang perlindungan.
