Internationalmedia.co.id melaporkan, Arab Saudi mengecam keras deklarasi PBB tentang bencana kelaparan di Gaza. Pernyataan mengejutkan ini menandai pertama kalinya PBB mengumumkan bencana kelaparan di Timur Tengah. Sekitar 500.000 jiwa di Gaza, wilayah yang dilanda konflik, kini menghadapi kelaparan akut.
Kementerian Luar Negeri Saudi, melalui pernyataan resmi, mengutuk tindakan Israel yang disebut sebagai "genosida" terhadap warga sipil tak berdaya di Gaza. Riyadh menilai situasi ini sebagai akibat langsung dari "ketiadaan mekanisme pencegahan dan pertanggungjawaban atas kejahatan berulang pasukan pendudukan Israel." Bencana kemanusiaan yang memburuk ini, menurut Saudi, akan menjadi "noda" bagi komunitas internasional, khususnya anggota tetap Dewan Keamanan PBB, jika tak segera dihentikan.

Kepala Bantuan PBB, Tom Fletcher, menyebut bencana ini sepenuhnya dapat dicegah. Ia menuding hambatan sistematis yang diterapkan Israel sebagai penyebab utama terhambatnya distribusi makanan ke wilayah Palestina tersebut. Pernyataan ini bertolak belakang dengan bantahan Israel yang menyebut laporan PBB sebagai "kebohongan Hamas yang dicuci" melalui organisasi-organisasi yang memiliki kepentingan pribadi.
Laporan Integrated Food Security Phase Classification (IPC) yang dirilis Jumat lalu, menyatakan telah terkonfirmasi bencana kelaparan (IPC Fase 5) di wilayah administrasi Gaza per 15 Agustus 2025. Wilayah Kota Gaza, yang mencakup sekitar 20% Jalur Gaza, menjadi pusat krisis ini. Sementara itu, badan-badan PBB telah lama memperingatkan memburuknya situasi kemanusiaan di Gaza. Namun, Israel tegas membantah adanya bencana kelaparan di wilayah tersebut. Pernyataan saling bertolak belakang ini semakin mempertegas kompleksitas krisis kemanusiaan di Gaza.

