Para pemimpin negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) menyuarakan penolakan keras terhadap segala bentuk pungutan tarif yang dikenakan pada kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Sikap tegas ini diumumkan dalam pertemuan konsultatif di Jeddah, Arab Saudi, seperti dilansir Internationalmedia.co.id – News, menegaskan kembali pentingnya navigasi yang aman dan bebas di jalur perairan strategis dunia tersebut.
Kondisi di Selat Hormuz memanas sejak pecahnya konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu. Langkah Teheran untuk membatasi aktivitas perlintasan dan memberlakukan pungutan tarif, bahkan dengan pembayaran menggunakan mata uang kripto atau Yuan Tiongkok yang diatur oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), telah memicu gejolak serius di pasar energi global. Kekhawatiran akan kerusakan ekonomi jangka panjang pun mencuat, mengingat sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati selat ini. Sebagai respons, militer Washington sebelumnya telah memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Dalam pernyataan resminya, Sekretaris Jenderal GCC, Jasem Mohamed Albudaiwi, menegaskan bahwa para pemimpin negara Teluk tidak hanya menolak pungutan tarif, tetapi juga menentang keras upaya penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Albudaiwi secara lugas menyebut tindakan Teheran tersebut sebagai langkah "ilegal" yang mengancam stabilitas regional dan global.
Sebagai respons strategis, Albudaiwi menambahkan bahwa para pemimpin negara Teluk telah memerintahkan percepatan pembangunan jalur pipa minyak dan gas bersama. Selain itu, mereka juga berencana membangun sistem peringatan dini terintegrasi untuk menangkal ancaman rudal balistik di kawasan tersebut, menunjukkan keseriusan dalam menjaga keamanan dan pasokan energi.
Penolakan tegas dari GCC ini muncul tak lama setelah Wakil Ketua Parlemen Iran, Hamidreza Hajibabaei, mengklaim bahwa pemerintahannya telah menerima pendapatan awal dari pungutan tarif yang diberlakukan di Selat Hormuz. "Pendapatan pertama yang diterima dari tol Selat Hormuz telah disetorkan ke rekening Bank Sentral," ujar Hajibabaei, seperti dikutip dari kantor berita Iran, Tasnim, tanpa merinci besaran jumlah yang telah terkumpul. Media Iran lainnya juga menyampaikan pernyataan serupa, namun tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai detail pendapatan tersebut.
