Di tengah upaya damai yang rapuh, sebuah insiden tragis mengguncang Lebanon. Sebuah serangan udara Israel dilaporkan menghantam kota Jibchit di Lebanon selatan, merenggut nyawa lima anggota keluarga yang sama. Peristiwa ini terjadi saat gencatan senjata seharusnya masih berlaku, memicu pertanyaan serius tentang komitmen kedua belah pihak. Menurut laporan yang diterima Internationalmedia.co.id – News, insiden memilukan ini terjadi baru-baru ini, menimbulkan duka mendalam di tengah harapan akan perdamaian.
Kantor berita Lebanon, National News Agency (NNA), melaporkan bahwa target serangan udara Israel adalah sebuah bangunan milik keluarga Bahja di area al-Jabal. Gempuran tersebut menghancurkan bangunan itu sepenuhnya, menewaskan kelima penghuninya. Para korban diidentifikasi sebagai Mohammad Jawab Bahja dan istrinya, Lotfiya, serta Amani Jaber bersama kedua anaknya, Mariam Hilal Bahja dan Ali al-Rida Hilal Bahja. Tim penyelamat dan ambulans bekerja sepanjang malam, berjuang membersihkan puing-puing dan mengevakuasi jenazah para korban dari reruntuhan.

Insiden ini kembali menyoroti ketegangan yang terus memanas di kawasan tersebut. Lebanon sendiri telah terseret ke dalam pusaran konflik Timur Tengah sejak 2 Maret lalu. Keterlibatan ini bermula setelah kelompok Hizbullah melancarkan serangan roket ke wilayah Israel, sebagai balasan atas kematian mantan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang diklaim akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Israel merespons dengan serangkaian serangan udara masif dan bahkan mengerahkan pasukan darat dalam operasi di wilayah Lebanon bagian selatan, yang dikenal sebagai basis kuat Hizbullah.
Dampak konflik ini terhadap Lebanon sangat menghancurkan. Data resmi pemerintah Lebanon menunjukkan bahwa lebih dari 2.500 jiwa telah melayang dan lebih dari 7.750 orang lainnya mengalami luka-luka akibat gempuran Israel sejak 2 Maret. Selain itu, lebih dari 1,6 juta warga Lebanon terpaksa mengungsi dari rumah mereka, mencari perlindungan dari kekerasan yang tak berkesudahan.
Padahal, sebuah gencatan senjata selama 10 hari telah diberlakukan antara Israel dan Lebanon sejak 17 April, yang kemudian diperpanjang selama tiga minggu mulai 24 April. Kesepakatan ini tercapai berkat mediasi Amerika Serikat, dalam upaya meredakan eskalasi. Namun, insiden terbaru ini menambah daftar panjang tuduhan pelanggaran gencatan senjata yang saling dilontarkan oleh Tel Aviv dan Hizbullah, mengikis kepercayaan dan harapan akan stabilitas jangka panjang.
