Internationalmedia.co.id melaporkan kabar mengejutkan terkait krisis kemanusiaan di Jalur Gaza. Israel dikabarkan akan mengizinkan pengiriman bantuan kemanusiaan dari negara-negara asing melalui jalur udara, mulai Jumat (25/7) waktu setempat. Informasi ini disampaikan oleh radio militer Israel, mengutip pernyataan seorang pejabat militer yang enggan disebutkan namanya. Pihak militer Israel sendiri belum memberikan konfirmasi resmi terkait hal ini.
Laporan dari berbagai media internasional, seperti Jerusalem Post dan The Hill, menyebutkan bahwa negara-negara seperti Uni Emirat Arab dan Yordania akan diizinkan melanjutkan pengiriman bantuan udara, seperti yang pernah dilakukan pada tahun 2024. Langkah ini diambil menyusul laporan mengejutkan dari Kementerian Kesehatan Gaza yang menyebutkan lebih dari 100 warga Gaza tewas akibat kelaparan sejak Israel memberlakukan blokade total akses bantuan kemanusiaan pada Maret lalu.

Meskipun Israel mencabut blokade pada Mei lalu, pembatasan tetap diberlakukan dengan alasan mencegah bantuan jatuh ke tangan Hamas. Situasi ini semakin memprihatinkan, mengingat laporan UNICEF yang menyebutkan 5.000 anak di Gaza mengalami malnutrisi akut pada dua pekan pertama Juli. Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, bahkan menyebut kelaparan massal di Gaza sebagai "buatan manusia".
Program Pangan Dunia (WFP) PBB juga turut menyuarakan keprihatinan. Mereka melaporkan hampir sepertiga warga Gaza tidak makan berhari-hari, dan sekitar 470.000 orang diperkirakan menghadapi bencana kelaparan antara Mei dan September tahun ini. Meskipun Israel membantah bertanggung jawab atas krisis ini, menuduh Hamas sebagai dalang di balik kekurangan pangan, tetapi laporan-laporan tersebut semakin memperkuat tekanan internasional terhadap kebijakan Israel. Perubahan sikap Israel ini menjadi sorotan dunia, apakah ini pertanda perubahan signifikan dalam penanganan krisis kemanusiaan di Gaza? Kita tunggu perkembangan selanjutnya.

