Internationalmedia.co.id memberitakan ketegangan baru antara Qatar dan Israel. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menuduh Qatar melindungi dan mendanai pejabat Hamas, bahkan memberikan mereka rumah mewah. Pernyataan ini langsung dibalas Qatar dengan kecaman keras.
Netanyahu melontarkan tuduhan tersebut sehari setelah Israel melancarkan serangan udara di Doha, ibu kota Qatar, yang menargetkan pejabat Hamas. Dalam pidatonya memperingati serangan 11 September, Netanyahu secara terang-terangan mengancam Qatar: "Usir mereka atau adili mereka, jika tidak, kami yang akan melakukannya." Ancaman ini dinilai Qatar sebagai "sembrono" dan merupakan "ancaman eksplisit pelanggaran kedaulatan negara."

Kementerian Luar Negeri Qatar membantah keras tuduhan tersebut melalui media sosial X. Mereka menegaskan bahwa keberadaan pejabat Hamas di Qatar berada dalam kerangka mediasi perdamaian yang difasilitasi Qatar atas permintaan Amerika Serikat dan Israel sendiri. Proses mediasi, kata kementerian, dilakukan secara resmi dan transparan dengan dukungan internasional serta disaksikan delegasi AS dan Israel. Qatar menyebut tudingan Netanyahu sebagai upaya untuk membenarkan serangan yang dikecam dunia internasional.
Serangan Israel di Doha, yang disebut menargetkan pertemuan para pemimpin tinggi Hamas yang tengah membahas proposal gencatan senjata, juga memicu kecaman Qatar. Qatar memperingatkan bahwa tindakan Israel tersebut dapat menggagalkan upaya perdamaian dan berjanji akan bekerja sama dengan mitra internasional untuk meminta pertanggungjawaban Netanyahu. Meskipun Hamas mengklaim tidak ada pemimpin seniornya yang tewas, beberapa anggota tingkat bawah dilaporkan menjadi korban, termasuk putra Khalil al-Hayya, pemimpin Hamas untuk Gaza. Kejadian ini semakin memperkeruh suasana dan meningkatkan tensi antara kedua negara.
