Ultimatum Presiden AS Donald Trump untuk menembak jatuh pesawat Venezuela membuat situasi memanas. Internationalmedia.co.id melaporkan, ketegangan antara AS dan Venezuela mencapai titik puncak setelah Pentagon menuduh Venezuela mencegat kapal-kapalnya di Karibia. Tudingan ini muncul setelah serangan mematikan AS terhadap sebuah kapal yang diduga mengangkut narkoba dari Venezuela.
Reaksi tak terduga datang dari Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Dalam pesan yang disiarkan secara nasional, Maduro justru mengajak dialog dengan pemerintah AS. "Tak satu pun perbedaan yang kita miliki dapat menyebabkan konflik militer," tegas Maduro, Jumat (5/9/2025) waktu Venezuela, seperti dikutip dari AFP. Ia menekankan kesiapan negaranya untuk berdialog, namun dengan syarat adanya rasa hormat.

Di tengah ketegangan yang meningkat, AS mengerahkan 10 pesawat tempur F-35 ke Puerto Riko. Langkah ini menjadi bagian dari strategi Trump dalam perang melawan kartel narkoba, di mana Maduro dituduh sebagai dalang utamanya. Namun, Maduro membantah keras tuduhan tersebut. Ia menyebut laporan intelijen yang diterima Trump tidak akurat dan menyatakan Venezuela bebas dari produksi kokain serta aktif memerangi perdagangan narkoba.
Sebelumnya, Trump mengeluarkan ancaman keras. Saat ditanya tentang langkah yang akan diambil jika pesawat Venezuela mendekati kapal AS, Trump dengan tegas menyatakan, "Jika mereka menempatkan kita dalam posisi berbahaya, mereka akan ditembak jatuh." Ancaman ini muncul setelah insiden penghancuran sebuah kapal yang diduga milik kartel narkoba Venezuela, Tren de Aragua, oleh pasukan AS pada Selasa (2/9/2025), yang menewaskan 11 orang. Pernyataan Maduro yang mendadak lunak ini menimbulkan pertanyaan besar: akankah dialog terwujud di tengah ancaman militer yang membayangi?
