Internationalmedia.co.id – Topan Kalmaegi menerjang Filipina dengan kekuatan dahsyat, menyebabkan banjir bandang yang belum pernah terjadi sebelumnya dan merenggut nyawa puluhan orang. Data terbaru menunjukkan jumlah korban tewas mencapai 66 jiwa, dengan provinsi Cebu menjadi wilayah yang paling terpukul.
Banjir dahsyat melanda kota-kota besar dan kecil di Cebu, menyapu segala yang dilewatinya, mulai dari mobil hingga kontainer pengiriman. Rafaelito Alejandro, wakil administrator pertahanan sipil, mengonfirmasi bahwa Cebu mencatat 49 korban jiwa dari total keseluruhan. Puluhan orang lainnya masih dinyatakan hilang.

"Kota-kota besar paling terdampak," ujar Alejandro, menggambarkan skala kehancuran yang meluas di wilayah urban. Kini, upaya pembersihan puing-puing menjadi prioritas utama untuk membuka kembali akses jalan yang terhalang.
Warga seperti Reynaldo Vergara, 53 tahun, menyaksikan langsung bagaimana banjir mengubah jalanan menjadi sungai yang ganas. "Banjir di sini kemarin sangat parah," katanya, mengungkapkan bahwa seluruh barang dagangannya hanyut terbawa arus.
Data dari pakar cuaca menunjukkan bahwa curah hujan ekstrem, mencapai 183 milimeter dalam 24 jam, menjadi pemicu utama banjir bandang. Angka ini jauh melampaui rata-rata bulanan yang hanya 131 milimeter.
Topan Kalmaegi saat ini bergerak ke arah barat menuju Palawan, dengan kecepatan angin mencapai 120 kilometer per jam dan hembusan hingga 165 km/jam. Filipina, yang rentan terhadap bencana alam, setiap tahunnya dilanda sekitar 20 badai dan topan. Para ilmuwan mengingatkan bahwa perubahan iklim memperparah intensitas badai, dengan lautan yang lebih hangat dan atmosfer yang lebih lembap berkontribusi pada pembentukan topan yang lebih kuat.
