Internationalmedia.co.id – Pemerintah Peru mengambil langkah tegas dengan mengumumkan keadaan darurat di Metropolitan Lima, ibu kota negara, menyusul gelombang demonstrasi antipemerintah yang semakin memanas. Aksi unjuk rasa yang telah berlangsung selama berminggu-minggu ini kembali berujung ricuh pada Rabu (15/10) waktu setempat, menyebabkan setidaknya satu orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka.
Kepala Kabinet Peru, Ernesto Alvarez, menyampaikan pengumuman tersebut dalam sebuah konferensi pers, mengungkapkan bahwa keputusan ini diambil sebagai respons terhadap eskalasi kekerasan dalam unjuk rasa. Awalnya, demonstrasi tersebut bertujuan untuk memprotes maraknya korupsi dan kejahatan terorganisir di Peru, namun situasi berubah menjadi bentrokan ketika sejumlah demonstran mencoba menerobos barikade di sekitar Gedung Kongres.

Massa aksi melemparkan batu dan menyalakan kembang api, memicu respons dari polisi antihuru-hara yang melepaskan tembakan gas air mata. Tragedi terjadi ketika seorang demonstran bernama Eduardo Ruiz, seorang rapper berusia 32 tahun, tewas tertembak. Presiden Jose Jeri secara langsung mengumumkan kematian Ruiz.
Kepala Kepolisian Peru, Jenderal Oscar Arriola, menyatakan bahwa seorang polisi dari Direktorat Investigasi Kriminal diduga sebagai pelaku penembakan yang menewaskan Ruiz. Polisi tersebut, yang diklaim diserang oleh massa, telah ditahan dan akan menghadapi pemberhentian dari jabatannya.
Selain korban tewas, unjuk rasa ini juga menyebabkan 113 orang lainnya terluka, terdiri dari 29 warga sipil dan 84 anggota kepolisian. Gelombang protes ini dipicu oleh ketidakpuasan publik terhadap lonjakan tindak kriminal, korupsi, serta kegagalan pemerintah dalam mengatasi krisis kejahatan yang semakin parah.
Sebelumnya, parlemen Peru telah memakzulkan Presiden Dina Boluarte pada Jumat (10/10), menyalahkannya atas meningkatnya tindak kriminal dan tuduhan korupsi. Praktik pemerasan dan pembunuhan bayaran telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di berbagai wilayah Peru, dengan geng-geng kriminal seperti Los Pulpos dan Tren de Aragua dari Venezuela yang beroperasi secara aktif.
Presiden sementara Jose Jeri, yang akan menjabat hingga pemilihan umum pada April tahun depan, telah berjanji untuk "menyatakan perang" terhadap kejahatan terorganisir. Ia juga meminta Kongres untuk memberikan wewenang khusus dalam memberlakukan undang-undang keamanan darurat tanpa melalui pemungutan suara di parlemen.
