Amerika Serikat menolak visa Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, sehingga beliau terpaksa menyampaikan pidato lewat video di Sidang Umum PBB. Hal ini diungkap Internationalmedia.co.id berdasarkan laporan AFP. Keputusan AS ini menimbulkan kehebohan menjelang Sidang Umum Tingkat Tinggi PBB ke-80 di New York yang dimulai 23 September mendatang.
PBB mengkonfirmasi bahwa pernyataan Presiden Abbas yang direkam sebelumnya akan diputar di Ruang Sidang Umum. AS beralasan penolakan visa ini karena Abbas dan sekitar 80 pejabat Palestina lainnya dianggap telah merusak prospek perdamaian. Pemerintahan AS menuding PLO dan Otoritas Palestina gagal menolak ekstremisme dan mendorong pengakuan sepihak negara Palestina.

Tuduhan ini dibantah pihak Palestina. Mereka menyatakan bahwa negosiasi yang dimediasi AS selama bertahun-tahun gagal mengakhiri pendudukan Israel dan membentuk negara Palestina merdeka. Meskipun Abbas mengecam serangan Hamas Oktober 2023 lalu dan menyerukan pembebasan sandera, AS tetap pada pendiriannya.
Departemen Luar Negeri AS menegaskan keputusan ini demi keamanan nasional dan mendesak PLO serta Otoritas Palestina untuk secara konsisten menolak terorisme. Mereka membuka peluang untuk kembali bernegosiasi jika Palestina memenuhi kewajiban dan mengambil langkah konkret menuju kompromi dan hidup berdampingan damai dengan Israel. Namun, misi Palestina untuk PBB tetap terbebas dari pembatasan visa ini. Keputusan ini juga memicu kontroversi karena dianggap melanggar perjanjian markas besar PBB tahun 1947 yang mewajibkan AS mengizinkan akses diplomat asing ke markas PBB di New York.
