Internationalmedia.co.id melaporkan, Presiden Venezuela Nicolas Maduro telah mengerahkan 25.000 tentara ke perbatasan Kolombia dan wilayah pesisir Karibia. Langkah kontroversial ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat (AS) yang dipimpin Presiden Donald Trump. Informasi ini disampaikan Maduro melalui media sosial, seperti yang dikutip oleh AFP pada Selasa (9/9/2025).
Maduro menyatakan pengerahan pasukan tersebut bertujuan untuk menjaga kedaulatan nasional, keamanan negara, dan perdamaian. Meskipun tidak secara eksplisit menyebut Trump, pernyataan ini muncul setelah AS meningkatkan aktivitas militer di kawasan tersebut. Ketegangan ini semakin memanas pasca penghancuran sebuah kapal yang diduga milik kelompok kriminal Venezuela oleh militer AS pekan lalu, menewaskan sedikitnya 11 orang.

Trump menuduh kapal tersebut milik geng kriminal Venezuela, Tren de Aragua, tanpa memberikan bukti yang memadai. Ia bahkan mengancam akan menembak jatuh pesawat tempur Venezuela jika dianggap membahayakan pasukan AS, menyusul deteksi dua pesawat Venezuela terbang dekat kapal perang AS di perairan internasional. Angkatan Bersenjata Venezuela sendiri diperkirakan berjumlah sekitar 123.000 personel, ditambah dengan klaim Maduro mengenai 220.000 anggota milisi sipil.
Menambah ketegangan, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth melakukan kunjungan mendadak ke Puerto Rico, wilayah AS yang berdekatan dengan Venezuela. Hegseth menekankan kepada para personel militer AS di USS Iwo Jima bahwa mereka tidak sedang berlatih, melainkan berada di garis depan misi kontra-narkotika yang krusial bagi kepentingan nasional AS. Kehadiran USS Iwo Jima di lepas pantai Puerto Rico semakin memperkuat postur militer AS di kawasan tersebut, meningkatkan kekhawatiran akan potensi eskalasi konflik. Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan hubungan Venezuela-AS dan potensi dampaknya bagi stabilitas regional.
