Internationalmedia.co.id – News Jenazah seorang anak buah kapal (ABK) yang hilang bersama rombongan jurnalis di sekitar Gunung Anak Krakatau akhirnya ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu. Penemuan ini menjadi titik terang pertama dalam misteri hilangnya kapal Arupadhatu 1, namun sekaligus memicu pertanyaan besar mengenai nasib lima jurnalis dan satu ABK lainnya yang hingga kini belum diketahui keberadaannya, terutama setelah Basarnas secara resmi menghentikan operasi pencarian aktif.
Al Amrad, Kepala Kantor Basarnas Banten, pada Rabu (23/9/2026), menegaskan bahwa operasi pencarian intensif untuk rombongan jurnalis tersebut telah dihentikan setelah mencapai batas waktu 10 hari. "Secara aturan, pencarian kami terlaksana selama 7 hari. Selama 7 hari itu kita sudah perpanjang 3 hari. Di 7 hari itu kita menemukan jelajah pada tanggal 12. Nah, sampai tanggal 14 kita evaluasi, kita perpanjang 3 hari. Setelah 3 hari, itu tidak ada tanda-tanda korban, makanya kita lakukan dengan tindak lanjut e-broadcast dan pemantauan," ujar Amrad kepada internationalmedia.co.id. Ia menggarisbawahi bahwa, meski satu jenazah telah teridentifikasi, belum ada rencana untuk kembali membuka operasi pencarian secara aktif.

Kendati operasi SAR gabungan di lapangan resmi dihentikan sejak 17 September 2026, Basarnas Banten tetap melakukan upaya tidak langsung. Mereka kini berkoordinasi intensif dengan Basarnas Bengkulu dan Lampung, serta para nelayan di wilayah pesisir, untuk mencari informasi atau petunjuk baru. Amrad menambahkan, hasil koordinasi dengan Kantor SAR Bengkulu dan Lampung, termasuk pemantauan wilayah pesisir Lebak, hingga kini masih nihil informasi mengenai keberadaan enam individu lainnya dan kapal Arupadhatu 1.
Terkuaknya identitas jenazah menjadi titik terang pertama dalam kasus ini. Polda Banten sebelumnya mengumumkan bahwa pria yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, adalah Surakman (50), seorang ABK dari kapal Arupadhatu 1. Identifikasi ini berhasil dilakukan berkat pencocokan DNA yang akurat dengan putra kandungnya, Yayat. Kapolda Banten Irjen Hengki dalam konferensi pers, Rabu (23/9/2026), menjelaskan, "Jenazah MR X tadi teridentifikasi sebagai Surakhman atau ABK kapal, ayah biologis dari Tuan Yayat, Tuan Yayat ini adalah yang sebelah kanan, sebagai putra kandung dari bapak Surakman ABK Kapal Arupadhatu 1."
Jenazah Surakman ditemukan dengan ciri-ciri fisik yang cukup jelas: mengenakan celana pendek hitam, tinggi sekitar 163 cm, dan diperkirakan berusia 50 tahun. Proses identifikasi melibatkan kerja sama erat antara Polda Bengkulu dan Polda Banten, di mana tim DVI melakukan pencocokan data antemortem yang telah dikumpulkan dari delapan keluarga korban yang hilang. Rombongan jurnalis dan ABK kapal Arupadhatu 1 tersebut diketahui hilang sejak 7 September 2026 saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Penemuan satu jenazah ini, meski membawa kejelasan bagi satu keluarga, menyisakan duka dan ketidakpastian mendalam bagi keluarga enam korban lainnya.
