Malang menjadi panggung diskusi yang memantik pemikiran mendalam mengenai arah nasionalisme dan peran krusial generasi muda di tengah arus disrupsi digital. Acara RedTalks bertajuk "Indonesia Punya Kita" yang digelar di Malang Creative Center (MCC) pada Sabtu, 25 Juli 2026, mempertemukan beragam perspektif dari akademisi, aktivis, komika, hingga politisi muda. Diskusi yang disiarkan langsung oleh Internationalmedia.co.id – News ini secara khusus menyoroti dinamika hubungan antara anak muda dan partai politik, serta pertanyaan besar: "Masih Percaya atau Sudah Kehilangan Harapan?".
Akademisi Dr. Suko Widodo dari FISIP Universitas Airlangga mengawali perbincangan dengan menggarisbawahi pergeseran signifikan dalam interaksi sosial pasca disrupsi teknologi dan pandemi. Ia mengingatkan urgensi bagi partai politik untuk kembali merangkul "wong cilik" atau marhaen, sebuah identitas yang dahulu begitu melekat pada PDI Perjuangan. "Hari ini banyak orang saling berbincang tapi tidak berkomunikasi. Banyak orang yang bertemu, tapi tidak berjumpa," ujar Suko, menggambarkan disonansi yang terjadi.

Senada, budayawan Drs. Dwi Cahyono, M.Hum., menyadari adanya potensi besar dari ratusan ribu mahasiswa di Malang Raya yang belum terwadahi secara efektif dalam sistem politik formal. Ia melihat sikap skeptis generasi muda saat ini justru merupakan bentuk evaluasi yang esensial, memungkinkan mereka mengambil jarak untuk menilai kinerja partai politik secara objektif. "Apakah orang-orang muda tidak memiliki kepedulian terhadap politik? Sangat peduli. Hanya saja, apakah kemudian memilih memperjuangkan kepedulian politiknya melalui partai politik atau tidak, sampai saat ini belum," jelas Dwi.
Dari sudut pandang generasi muda, Ketua PMII Cabang Kota Malang Benny Miftahul Arifin menyoroti perlunya edukasi dan akomodasi ruang yang lebih konkret dari partai politik hingga ke tingkat akar rumput. Ia mengamati kecenderungan anak muda untuk lebih fokus pada pengembangan individual karena merasa aspirasi mereka belum sepenuhnya terakomodasi. "Kalau bisa jangan hanya di sini, kalau bisa sampai ke akar-akar bawah, karena masalah itu ada di bawah, tidak ada di atas," tegas Benny, menyerukan agar diskusi serupa menjangkau masyarakat luas.
Peran media sosial dan komunikasi menjadi sorotan komika Dewangga. Ia menekankan pentingnya pendekatan visual dan branding yang tepat agar pesan politik dapat diterima oleh generasi masa kini. "Perannya anak muda sekarang itu di sosmed. Kita harus jago-jago ngebranding supaya orang tuh mau ngelihat kita apa," papar Dewangga, memberikan contoh bagaimana humor dan kata kunci sederhana bisa lebih melekat dalam ingatan publik. Aktivis GMNI M Alif Firdaus turut menegaskan bahwa cara penyampaian yang ringan dan relevan jauh lebih efektif menarik perhatian anak muda dibandingkan agenda politik formal lima tahunan.
Komika senior Abdel Achrian memberikan kritik tajam namun humoris terkait kemasan pesan partai politik. Ia menyoroti bagaimana kosakata birokratis seringkali membuat partai terkesan kaku di mata anak muda. "Packaging-nya di zaman sekarang penting. Begitu masuk anak muda ke partai politik, kosakatanya udah mulai berganti bukan kosakata anak muda lagi, kosakatanya kosakata birokrat banget," tutur Abdel.
Pengamat politik Rocky Gerung menutup sesi dengan penekanan kuat bahwa perjuangan politik bagi anak muda tidak boleh berhenti pada sentimen atau komodifikasi kosmetik semata. Ia mendorong generasi muda untuk berani menantang gagasan partai politik dengan argumen dan ideologi yang kuat. "Kalau Anda cuma memproduksi rasa iri atau jengkel, itu artinya Anda cuma memproduksi sentimen. Yang kita perlukan adalah argumen," tegas Rocky. "Mari kita bertengkar dengan argumen dan dengan arah ideologis. Hanya dengan itu negeri ini bisa dihasilkan kembali. Silakan pacaran, tapi jangan lupa berpikir," pesannya.
RedTalks 2026, yang mengusung tema "Indonesia Punya Kita: Nasionalisme Tanpa Batas Generasi," dirancang sebagai ruang dialog terbuka untuk bertukar gagasan, menyampaikan kritik, dan melakukan otokritik secara konstruktif. Forum ini membahas dua topik utama: "Anak Muda dan Partai Politik: Masih Percaya atau Sudah Kehilangan Harapan?" serta "Mandiri atau Menyerah? Jalan Anak Muda Membangun Masa Depan di Tengah Ketidakpastian."
Selain para pembicara di atas, RedTalks 2026 juga menghadirkan Wakabid Ekonomi Kreatif dan Ekonomi Digital DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Qintharra Ulya Yassifa, akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Dr. Silvi Asna Prestianawati, S.E., M.Si. Suara generasi muda diwakili oleh Wakil Ketua BEM Universitas Brawijaya Kafitan Aidil Fitra Sukirman, Wakil Ketua BEM Universitas Wisnuwardhana sekaligus Wakil Koordinator BEM Malang Raya Aryo Bimo Soebagio, Ketua Bidang Politik dan Jaringan DPC GMNI Malang Mochamad Alif Firdaus, serta Ketua PMII Kota Malang Benny Miftahul Arifin.
Acara yang dikemas dalam format talk show interaktif selama sekitar tiga jam ini bertujuan merumuskan rekomendasi sebagai refleksi kebangsaan. RedTalks 2026 berlangsung di Auditorium Malang Creative Center (MCC) dan dapat diikuti secara langsung maupun melalui siaran langsung di internationalmedia.co.id.
