Internationalmedia.co.id – News – Manokwari menjadi saksi bisu gelaran akbar Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI Tingkat Provinsi Papua Barat Tahun 2026. Sejak Jumat (10/7/2026) hingga Sabtu (11/7/2026), sembilan sekolah terbaik dari berbagai penjuru Papua Barat beradu wawasan, memperebutkan gelar juara provinsi sekaligus tiket emas menuju panggung nasional di Jakarta.
Rangkaian kompetisi yang sarat makna ini diawali dengan sesi technical meeting dan simulasi. Aktivitas tersebut dirancang untuk memastikan setiap peserta memahami mekanisme perlombaan, tata tertib, serta memberikan kesempatan untuk saling mengenal sebelum memasuki babak penyisihan yang ketat hingga final. Kehadiran Kepala Biro Persidangan dan Pemasyarakatan Konstitusi Sekretariat Jenderal MPR RI, Wachid Nugroho, perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi Papua Barat, serta tiga akademisi terkemuka dari perguruan tinggi setempat sebagai dewan juri, menambah bobot dan kredibilitas acara.

Antusiasme para pelajar terlihat jelas sejak hari pertama. Demi mengikuti ajang ini, beberapa tim harus menempuh perjalanan yang tak mudah. Tim dari MAN Fakfak, misalnya, menghabiskan hampir satu hari penuh di perjalanan darat, sementara peserta dari SMAN 1 Bintuni memerlukan waktu lebih dari lima jam untuk mencapai Manokwari. Sembilan sekolah yang berpartisipasi adalah SMAN 1 Manokwari, SMAN 1 Bintuni, MAN Fakfak, SMAN 1 Prafi, SMAN 2 Manokwari, MAN Manokwari, SMA IT Insan Mulia Manokwari, SMK Kehutanan Negeri Manokwari, dan SMAN Taruna Kasuari Nusantara Papua Barat.
"Persiapan kami sudah dimulai sejak Rabu, termasuk latihan intensif dan perjalanan panjang menuju Manokwari," ujar Adli Aldi Arsyafin Fimbay, salah satu peserta dari SMAN 1 Bintuni, dalam keterangannya kepada internationalmedia.co.id pada Sabtu (11/7/2026). Adli mengungkapkan tekad timnya untuk memberikan yang terbaik. Ia juga berbagi kisah ringan tentang salah satu anggota tim yang ponselnya rusak, memicu candaan bahwa hadiah lomba bisa membantu membeli perangkat baru. Namun, di balik seloroh tersebut, Adli menegaskan bahwa seluruh tim telah mempersiapkan diri secara maksimal bersama guru pembimbing dan siap berjuang di setiap babak.
Dalam sesi pembekalan yang penuh inspirasi, Wachid Nugroho mengajak para peserta untuk mendalami makna Empat Pilar MPR RI, khususnya Pancasila sebagai dasar negara dan pedoman esensial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Wachid menyoroti perkembangan pesat media sosial yang, di satu sisi, membuka ruang ekspresi tak terbatas bagi generasi muda, namun di sisi lain juga membawa tantangan berupa arus informasi dan nilai-nilai yang perlu disikapi dengan bijaksana. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai filter utama dalam menyaring berbagai pengaruh dari media sosial maupun globalisasi.
Dalam dialog interaktif, Wachid mengajak peserta mengidentifikasi nilai-nilai Pancasila yang telah mengakar dalam tradisi masyarakat Papua Barat. Salah seorang peserta mencontohkan semangat gotong royong yang kental dalam penyelenggaraan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional, di mana masyarakat lintas agama dan berbagai elemen daerah bersatu padu demi kesuksesan acara. Sementara itu, perwakilan dari SMAN 1 Manokwari mengangkat tradisi Bakar Batu atau Barapen sebagai wujud nyata gotong royong, kebersamaan, dan persatuan yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Papua.
Menanggapi contoh-contoh tersebut, Wachid menegaskan bahwa nilai-nilai kearifan lokal adalah bagian tak terpisahkan dari kekayaan bangsa yang selaras dengan Pancasila. Ia berharap pemahaman mendalam tentang Pancasila tidak hanya menjadi bekal dalam LCC, tetapi juga menjadi landasan kuat bagi para pelajar dalam kehidupan sehari-hari sebagai generasi penerus bangsa. "Perkembangan teknologi dan arus globalisasi harus disikapi secara bijaksana. Generasi muda perlu tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila agar identitas dan karakter kebangsaan tetap terjaga," pungkasnya, menutup sesi pembekalan dengan pesan yang mendalam.
