Internationalmedia.co.id – News – Sebuah inisiatif diplomatik signifikan tengah bergulir di tengah panasnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Pakistan dilaporkan telah mengajukan proposal perdamaian dua tahap yang ambisius, bertujuan untuk mengakhiri permusuhan dan membuka kembali jalur pelayaran vital di Selat Hormuz. Sumber-sumber terpercaya menyebutkan bahwa semua pihak yang bertikai kini sedang mempertimbangkan kerangka kerja yang diajukan Islamabad ini.
Proposal ini, yang pertama kali diungkap oleh Aljazeera pada Senin (6/4/2026) dan dikonfirmasi oleh Reuters, datang sebagai respons terhadap eskalasi ketegangan di kawasan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengakui adanya upaya diplomatik dari Pakistan, yang telah berbagi rincian rencana tersebut dengan Teheran dan Washington. Baghaei menekankan bahwa prioritas utama Iran saat ini adalah menjaga keamanannya di tengah serangkaian serangan terbaru dari AS dan Israel.

Kondisi di lapangan memang memanas. Sebelumnya pada hari Senin, sebuah universitas terkemuka di Teheran dan Pabrik Petrokimia South Pars di Asaluyeh menjadi sasaran serangan, menewaskan sedikitnya 34 orang di Iran. Insiden ini menambah urgensi bagi upaya mediasi.
Menurut laporan Axios pada Minggu sebelumnya, AS, Iran, dan sejumlah mediator regional telah membahas potensi gencatan senjata selama 45 hari sebagai bagian dari "kesepakatan dua tahap" yang dapat mengarah pada penghentian permanen konflik. Proposal Pakistan tampaknya sejalan dengan kerangka pemikiran ini.
Sumber yang dekat dengan negosiasi mengungkapkan kepada Reuters bahwa Kepala Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, telah menjalin kontak intens "sepanjang malam" dengan Wakil Presiden AS JD Vance, Utusan Khusus Steve Witkoff, serta Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. "Semua elemen perlu disepakati hari ini," ujar sumber tersebut, menyoroti urgensi situasi.
Pemahaman awal direncanakan akan dituangkan dalam bentuk nota kesepahaman (MoU) yang diselesaikan secara elektronik, dengan Pakistan bertindak sebagai satu-satunya saluran komunikasi dalam pembicaraan sensitif ini.
Berdasarkan proposal tersebut, tahap pertama akan segera memberlakukan gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz. Tahap kedua akan memberikan waktu 15 hingga 20 hari untuk menyelesaikan penyelesaian yang lebih komprehensif. Kesepakatan ini, yang sementara disebut "Kesepakatan Islamabad", diharapkan mencakup kerangka kerja regional untuk Selat Hormuz, dengan pembicaraan tatap muka terakhir dijadwalkan di ibu kota Pakistan.
Sumber tersebut juga menambahkan bahwa kesepakatan akhir kemungkinan akan mencakup komitmen Iran untuk tidak mengejar pengembangan senjata nuklir. Sebagai imbalannya, Iran akan mendapatkan pencabutan sanksi ekonomi dan pelepasan aset-asetnya yang dibekukan.

