Internationalmedia.co.id – News – Teheran kembali menjadi sorotan dunia setelah otoritas Iran mengumumkan eksekusi mati terhadap seorang pria yang dituduh sebagai kaki tangan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Hukuman gantung ini dilaksanakan pada Senin (6/4) waktu setempat, di tengah ketegangan geopolitik yang memanas. Pria bernama Ali Fahim ini dihukum karena perannya dalam gelombang demonstrasi anti-pemerintah yang melanda negara itu pada awal tahun ini.
Menurut laporan Mizan Online, media yang dikelola oleh otoritas kehakiman Iran, Ali Fahim diidentifikasi sebagai terpidana yang dieksekusi. Ia dituduh sebagai "elemen musuh" dalam "kerusuhan teroris Dey" (Januari). Mahkamah Agung Iran telah meninjau dan mengonfirmasi putusan tersebut. Fahim dinyatakan bersalah atas tuduhan bekerja melawan kepentingan Iran atas nama "rezim Zionis dan Amerika Serikat", termasuk tuduhan membobol situs militer rahasia dengan tujuan merebut persenjataan.

Eksekusi Fahim menambah daftar panjang hukuman mati terkait demonstrasi anti-pemerintah yang mengguncang Iran dari akhir Desember tahun lalu hingga awal Januari tahun ini. Awalnya dipicu oleh protes terhadap kenaikan biaya hidup, gelombang aksi massa ini dengan cepat meluas menjadi unjuk rasa nasional yang menuntut perubahan politik. Puncak demonstrasi terjadi pada 8-9 Januari. Pemerintah Teheran bersikeras bahwa apa yang dimulai sebagai protes damai kemudian "dihasut oleh pihak asing" dan berubah menjadi "kerusuhan teroris" yang melibatkan tindak kekerasan, pembunuhan, dan vandalisme.
Mengenai korban jiwa, Iran mengklaim lebih dari 3.000 orang tewas selama kerusuhan, termasuk personel keamanan dan warga sipil, yang mereka kaitkan dengan "tindakan teroris." Namun, data dari Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di AS menunjukkan angka yang jauh lebih tinggi, yaitu lebih dari 7.000 kematian, dengan mayoritas adalah demonstran. HRANA bahkan menduga jumlah sebenarnya bisa lebih besar.
Eksekusi ini terjadi di tengah eskalasi konflik regional. Sejak 28 Februari lalu, Iran terlibat dalam perang terbuka melawan AS dan Israel, membalas dengan serangkaian serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi markas aset militer AS. Waktu eksekusi Fahim ini tentu menambah kompleksitas situasi geopolitik yang sudah sangat tegang di Timur Tengah.

