Sebuah insiden mengguncang Iran. Mayor Jenderal Majid Khademi, sosok penting yang menjabat sebagai kepala Organisasi Intelijen Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Senin (6/4). Internationalmedia.co.id – News melaporkan, pernyataan resmi dari Garda Revolusi Iran melalui saluran Telegram mereka menyebutkan bahwa Khademi gugur dalam "serangan teroris kriminal oleh musuh Amerika-Zionis" pada dini hari.
Kematian Khademi menambah daftar panjang korban akibat agresi militer ini. Laporan menyebutkan, puluhan warga sipil, termasuk enam anak-anak, juga kehilangan nyawa dalam serangkaian serangan udara yang dilancarkan AS dan Israel di berbagai wilayah Iran.

Kantor Humas Layanan Medis Darurat Teheran pada Senin (5/4) pagi setempat mengonfirmasi bahwa di antara korban tewas terdapat empat anak perempuan dan dua anak laki-laki yang berusia di bawah sepuluh tahun. Lembaga tersebut menyayangkan bahwa anak-anak tak berdosa ini "menjadi korban kekerasan yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan mereka yang polos dan kekanak-kanakan." Informasi lebih lanjut mengenai lokasi pasti, jumlah korban luka, dan status operasi penyelamatan masih menunggu pengumuman resmi.
Sebelumnya, Gubernur Baharestan mengungkapkan bahwa area permukiman di wilayahnya menjadi sasaran serangan gabungan AS-Israel pada Senin dini hari. Dua unit perumahan di kompleks Qaleh Mir dilaporkan hancur total, menyebabkan 13 orang meninggal dunia dan 20 lainnya mengalami luka-luka. Seluruh korban telah dievakuasi ke fasilitas medis, sementara tim pencarian dan penyelamatan masih terus berupaya menemukan korban lain di lokasi kejadian.
Dari Provinsi Qom, Morteza Heydari, Wakil Gubernur Bidang Politik dan Keamanan, yang meninjau langsung lokasi, melaporkan bahwa serangan terhadap daerah permukiman di kota Qom sekitar pukul 01.00 waktu setempat telah merenggut nyawa sembilan warga sipil dan melukai 19 lainnya.
Eskalasi konflik ini bukan hal baru. AS dan Israel diketahui memulai serangan militer terhadap Iran sejak 28 Februari, menyusul agresi serupa yang terjadi sekitar delapan bulan sebelumnya tanpa provokasi. Agresi berkelanjutan ini telah menyebabkan gugurnya sejumlah tokoh penting dan ratusan warga sipil Iran, termasuk perempuan dan anak-anak, serta beberapa komandan militer senior. Iran sendiri tidak tinggal diam, segera membalas serangan tersebut dengan melancarkan rentetan serangan rudal dan drone ke Israel serta pangkalan militer dan kepentingan AS di negara-negara regional, seperti yang dilaporkan internationalmedia.co.id.

