Internationalmedia.co.id – News – Teheran, Iran. Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melontarkan peringatan keras kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Peringatan ini datang menyusul ancaman Trump yang akan menyerang infrastruktur vital Teheran.
Ghalibaf, dalam pernyataannya yang disiarkan melalui media sosial X dan dikutip Al Arabiya, menegaskan bahwa "langkah-langkah sembrono" dari pihak AS akan berakibat fatal. "Seluruh kawasan kita akan terbakar," ujarnya, seraya menambahkan bahwa tindakan tersebut akan menyeret Amerika Serikat ke dalam "neraka mengerikan bagi setiap keluarga" karena Trump "bersikeras mengikuti perintah Netanyahu," merujuk pada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Menurut Ghalibaf, satu-satunya jalan keluar yang realistis dari krisis ini adalah dengan menghormati hak-hak rakyat Iran dan mengakhiri "permainan berbahaya" yang sedang berlangsung.
Ancaman Trump sendiri muncul dalam wawancara dengan Wall Street Journal (WSJ) baru-baru ini. Ia menetapkan batas waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz hingga Selasa malam. Jika tidak dipatuhi, Trump mengancam bahwa Iran "tidak akan memiliki pembangkit listrik dan jembatan yang masih berdiri."
Tak lama setelah wawancara tersebut, Trump juga memposting pernyataan singkat di media sosialnya, tanpa menyebut Iran secara spesifik, namun mengindikasikan "Selasa, pukul 20.00 Eastern Time (waktu AS)." Dalam unggahan terpisah, ia kembali menegaskan serangan infrastruktur jika Selat Hormuz tidak dibuka, meski tanpa batas waktu yang persis.
Kondisi di kawasan Timur Tengah memang telah memanas sejak serangan gabungan skala besar oleh AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Teheran melancarkan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Serangan balasan Iran ini mengakibatkan kerusakan signifikan dan korban jiwa, termasuk setidaknya 13 tentara AS tewas dan lebih dari 300 lainnya luka-luka di negara-negara Teluk. Selain itu, Selat Hormuz, jalur perairan krusial untuk pasokan minyak dan gas global, telah ditutup oleh Iran selama berminggu-minggu, memicu krisis energi global dan lonjakan harga komoditas.

