Washington DC – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Minggu (5/4) menegaskan bahwa pengerahan pasukan darat ke Iran belum menjadi keharusan pada fase ini. Namun, ia secara tegas menolak untuk mengesampingkan opsi militer tersebut di masa depan. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara eksklusif dengan ABC News, sebagaimana dilaporkan oleh Internationalmedia.co.id – News.
"Saya rasa itu tidak perlu, tetapi saya tidak mengesampingkan kemungkinan apa pun," ujar Trump kepada ABC News, dikutip dari Anadolu Agency pada Senin (6/4/2026). Dalam kesempatan terpisah saat berbicara dengan media AS The Hill, Trump kembali menegaskan bahwa opsi pengerahan pasukan darat akan tetap dipertimbangkan jika Teheran gagal mencapai kesepakatan diplomatik dengan Washington.

Sikap terbaru Trump ini konsisten dengan pendiriannya sejak awal operasi militer AS terhadap Iran. Sebelumnya, pada 28 Februari, ia juga menyatakan kepada New York Post bahwa ia tidak "merasa gugup terkait pengerahan pasukan darat." Gedung Putih pun mengonfirmasi bahwa saat ini pasukan darat bukan bagian dari rencana AS, namun menambahkan bahwa Trump "dengan bijak tetap membuka opsi-opsi yang ada."
Kawasan Timur Tengah telah dilanda ketegangan ekstrem menyusul serangan gabungan skala besar yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari lalu. Operasi militer tersebut telah menelan korban jiwa sedikitnya 1.340 orang, termasuk mantan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai respons, Teheran melancarkan serangkaian serangan balasan menggunakan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta beberapa negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Serangan balasan Iran ini mengakibatkan kerusakan signifikan dan korban jiwa, termasuk 13 tentara AS yang tewas dan lebih dari 300 lainnya luka-luka di berbagai negara Teluk.

