Internationalmedia.co.id – News – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran mengeluarkan peringatan keras kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Teheran menegaskan akan memberikan balasan yang "jauh lebih dahsyat dan meluas" jika Washington nekat menyerang infrastruktur sipil mereka, menyusul ancaman Trump terkait penutupan Selat Hormuz.
Ancaman Trump sebelumnya disampaikan melalui unggahan media sosial yang kontroversial. Ia mengultimatum Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran vital untuk pasar energi global, sebelum batas waktu Senin ini. Jika tidak, Trump mengancam akan melancarkan serangan terhadap infrastruktur penting seperti pembangkit listrik dan jembatan di Iran. "Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya digabung menjadi satu, di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!!" tulis Trump dengan bahasa yang vulgar, mengancam Iran akan "hidup di Neraka" jika tidak mematuhi.

Batas waktu 10 hari ini ditetapkan Trump pada 26 Maret, setelah lalu lintas di Selat Hormuz terhenti sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Trump sempat menyatakan keyakinannya kepada Fox News bahwa kesepakatan bisa dicapai melalui negosiasi sebelum batas waktu yang ditentukan.
Namun, respons dari Teheran sangat tegas. Dilansir AFP pada Senin (6/4/2026) dan Al Jazeera, seorang juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, komando militer pusat Iran, menyatakan melalui stasiun televisi pemerintah IRIB, "Jika serangan terhadap sasaran sipil terulang, tahapan selanjutnya dari operasi ofensif dan pembalasan kami akan jauh lebih dahsyat dan meluas."
Misi Iran untuk PBB juga mengecam ancaman Trump, menyebutnya sebagai "tindakan kejahatan perang yang keji." Mereka mendesak komunitas internasional dan semua negara untuk "bertindak sekarang. Besok sudah terlambat" guna mencegah serangan terhadap infrastruktur sipil yang krusial bagi kelangsungan hidup warga Iran.
Senada, Seyyed Mehdi Tabatabaei, wakil bidang komunikasi di kantor presiden Iran, menepis ancaman Trump sebagai tanda "keputusasaan dan kemarahan." Ia menegaskan bahwa Selat Hormuz hanya akan dibuka kembali setelah pembayaran ganti rugi atas kerusakan yang disebabkan oleh perang. Pembayaran tersebut, menurutnya, akan berupa biaya transit melalui "rezim hukum baru" di sekitar selat, mengisyaratkan potensi sistem di mana kapal yang melintas harus membayar biaya bahkan setelah konflik berakhir.
Perlu diingat, serangan AS-Israel sebelumnya telah menargetkan berbagai fasilitas sipil, termasuk jembatan, sekolah, fasilitas kesehatan, dan universitas. Para ahli telah memperingatkan bahwa beberapa serangan tersebut berpotensi dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Sementara itu, Trump sendiri menolak untuk memberikan jangka waktu pasti kapan perang akan berakhir, hanya menyatakan, "Saya akan segera memberi tahu Anda." Ketidakpastian ini semakin menambah ketegangan di tengah ancaman balasan yang saling dilontarkan kedua belah pihak.

