Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat klaim mengejutkan bahwa Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah meminta gencatan senjata kepada AS. Namun, Trump menyatakan bahwa AS hanya akan mempertimbangkan permintaan tersebut jika Selat Hormuz sepenuhnya bebas dari lalu lintas kapal. Klaim ini disampaikan Trump melalui platform Truth Social miliknya, seperti dilansir Internationalmedia.co.id – News dari kantor berita AFP pada Rabu (1/4/2026).
"Presiden Iran baru saja meminta gencatan senjata kepada Amerika Serikat!" tulis Trump dalam unggahannya. Ia melanjutkan, "Kami akan mempertimbangkannya ketika Selat Hormuz terbuka, bebas, dan bersih. Sampai saat itu, kami akan membombardir Iran hingga musnah atau, seperti yang mereka katakan, kembali ke Zaman Batu!!!" Pernyataan ini menunjukkan ketegasan sikap Washington di tengah ketegangan yang memanas.

Sebelumnya, Presiden Masoud Pezeshkian sendiri pernah menegaskan bahwa setiap keputusan untuk mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat dan Israel harus "menjamin keamanan dan kepentingan rakyat Iran." Dalam rapat kabinet yang dikutip oleh kantor berita negara IRNA dan dilansir Anadolu Agency pada Selasa (31/3), Pezeshkian menyoroti pentingnya "perlawanan yang ditunjukkan oleh tentara, bersama dengan persatuan nasional yang ditunjukkan oleh rakyat Iran selama perang" sebagai faktor krusial dalam mengatasi krisis.
Ia juga menggarisbawahi signifikansi "demonstrasi pro-pemerintah" di berbagai kota dalam memperkuat posisi Iran di mata dunia. "Pertemuan rakyat di malam hari memiliki nilai yang besar… Iran menginspirasi para pejuang kemerdekaan," ujarnya, menunjukkan upaya Teheran untuk memobilisasi dukungan domestik.
Eskalasi regional telah berlangsung sejak Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei saat itu, memicu gelombang kemarahan di seluruh Iran.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangkaian serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta beberapa negara Teluk yang menampung aset militer AS. Serangan balasan ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, tetapi juga mengganggu pasar global dan jadwal penerbangan internasional, menambah kompleksitas krisis di Timur Tengah.
