Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran masih membayangi. Namun, pertanyaan besar mengenai kapan konflik ini akan mencapai ‘garis akhir’ mulai terjawab dengan sinyal dari Presiden AS Donald Trump. Internationalmedia.co.id – News mengulas pernyataan penting dari berbagai pihak terkait potensi berakhirnya perang.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, dalam wawancara dengan Fox News yang dikutip Aljazeera, memberikan gambaran optimis. Ia menyatakan bahwa ‘garis akhir’ konflik dengan Iran sudah terlihat. "Kita bisa melihat garis finishnya. Bukan hari ini, bukan besok, tetapi akan segera tiba," ujarnya. Rubio juga tidak menutup kemungkinan adanya pertemuan langsung antara pejabat AS dan Iran di masa mendatang.

Dukungan moral juga datang dari Paus Leo XIV. Saat meninggalkan kediamannya di Castel Gandolfo, Paus menyampaikan harapannya agar Presiden Trump benar-benar mencari ‘jalan keluar’ untuk mengakhiri perang yang berkecamuk di Timur Tengah. "Saya diberitahu bahwa Presiden Trump baru-baru ini menyatakan bahwa ia ingin mengakhiri perang, mudah-mudahan ia sedang mencari jalan keluar, mudah-mudahan ia sedang mencari cara untuk mengurangi jumlah kekerasan, pemboman," kata Paus kepada wartawan, seperti dilansir AFP. Ia menambahkan bahwa upaya tersebut akan menjadi kontribusi signifikan untuk meredakan kebencian yang terus meningkat. Paus berusia 70 tahun itu juga menyerukan semua pemimpin dunia untuk "kembali ke meja perundingan untuk berdialog, mari kita cari solusi untuk masalah."
Presiden Trump sendiri, saat ditanya di Gedung Putih pada Selasa (31/3) mengenai dampak kenaikan harga bahan bakar sejak dimulainya perang pada 28 Februari, memberikan pernyataan yang mengejutkan. Ia menegaskan bahwa untuk mengakhiri krisis ini, "Yang harus saya lakukan hanyalah meninggalkan Iran, dan kita akan segera melakukannya." Trump bahkan memberikan perkiraan waktu yang spesifik: "Kita sedang menyelesaikan pekerjaan ini, dan saya pikir mungkin dalam dua minggu, mungkin beberapa hari lebih lama, untuk menyelesaikan pekerjaan ini." Menariknya, Trump juga menekankan bahwa penghentian serangan AS ke Iran tidak bergantung pada tercapainya kesepakatan apa pun dengan Teheran. "Mereka tidak perlu membuat kesepakatan dengan saya," tegasnya kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih, sebagaimana dilaporkan AFP.
Mengenai syarat penarikan pasukan AS, Trump menjelaskan bahwa akhir perang akan tiba ketika Iran berada dalam kondisi ‘terpuruk’ dan tidak mampu mengembangkan senjata nuklir. "Ketika kita merasa bahwa mereka, untuk jangka waktu yang lama, akan terpuruk di zaman batu dan tidak akan mampu menciptakan senjata nuklir, maka kita akan pergi," katanya. Ia kembali menegaskan, "Apakah kita memiliki kesepakatan atau tidak, itu tidak relevan."
Presiden Trump juga mengulangi seruannya agar negara-negara sekutu yang membutuhkan minyak "mendapatkan" pasokan mereka sendiri dengan langsung menuju Selat Hormuz. Ini disampaikan setelah banyak sekutu menolak permintaan AS untuk bantuan militer dalam membebaskan lalu lintas kapal tanker di perairan yang ditutup Iran. "Jika Prancis atau negara lain ingin mendapatkan minyak atau gas, mereka akan pergi melalui Selat Hormuz, mereka akan langsung pergi ke sana, dan mereka akan mampu mengurus diri sendiri," jelasnya. "Apa yang terjadi dengan selat itu, kita tidak akan ikut campur," imbuhnya. Secara terpisah, melalui unggahan di Truth Social pada Selasa pagi waktu setempat, Trump kembali menegaskan sikapnya. Ia menyerukan negara-negara yang mengalami kekurangan bahan bakar untuk "pergi dan ambil minyak Anda sendiri" di Selat Hormuz, dengan alasan, "AS tidak akan ada di sana untuk membantu Anda lagi, sama seperti Anda tidak ada di sana untuk kami. Iran pada dasarnya telah hancur. Bagian tersulit sudah selesai. Pergi dan ambil minyak Anda sendiri."
