Sebuah keputusan mengejutkan datang dari ranah hukum Amerika Serikat. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, Presiden Donald Trump diperintahkan untuk menghentikan sementara proyek pembangunan ballroom megah di bawah Gedung Putih. Perintah ini dikeluarkan oleh Hakim Richard Leon, yang secara tegas mengingatkan bahwa Trump bukanlah pemilik sah dari ikon nasional tersebut.
Dalam putusannya, Hakim Leon menegaskan bahwa peran Trump di Gedung Putih hanyalah sebagai ‘pengelola’, bukan pemilik mutlak. Oleh karena itu, kelanjutan proyek ambisius ini mutlak memerlukan persetujuan dari Kongres AS. Tanpa restu legislatif, pembangunan tersebut tidak dapat dilanjutkan.

Putusan ini merupakan respons atas gugatan hukum yang diajukan oleh National Trust for Historic Preservation di Amerika Serikat, sebuah organisasi nirlaba yang berdedikasi pada pelestarian bangunan bersejarah. Hakim Leon memberikan penundaan dua minggu atas perintahnya, membuka kesempatan bagi tim hukum Trump untuk mengajukan banding. Namun, ia kembali menegaskan, "Proyek pembangunan ruang dansa harus dihentikan sampai Kongres mengesahkan penyelesaiannya."
Leon lebih lanjut menjelaskan bahwa tidak ada undang-undang yang memberikan wewenang seluas itu kepada seorang presiden untuk proyek semacam ini. Ia menyarankan Trump untuk mengajukan permohonan kepada Kongres guna mendapatkan otorisasi eksplisit, bahkan jika proyek tersebut didanai secara pribadi. "Kongres akan tetap mempertahankan wewenangnya atas properti negara dan pengawasannya atas pengeluaran Pemerintah," pungkas Leon, menggarisbawahi supremasi legislatif dalam hal ini.
Sebagai seorang pengembang real estat miliarder, Trump memang tidak pernah menyembunyikan ambisinya terhadap proyek ballroom ini. Ia sempat mengejutkan publik pada Oktober tahun lalu dengan merobohkan sebagian besar struktur di bawah Gedung Putih, menyatakan kebutuhan mendesak akan pusat acara berskala besar yang modern.
Sejak inisiatif tersebut, politisi Republik berusia 79 tahun ini kerap kali menyelipkan pembahasan mengenai proyek ballroom dalam berbagai pidatonya, bahkan ketika topiknya menyimpang. Ia seringkali detail dalam menjelaskan arsitektur dan fasilitas yang diusulkan. Menanggapi gugatan ini, Trump pada hari Selasa (31/3) melancarkan serangan di media sosial terhadap National Trust, menjuluki mereka "Kelompok Kiri Radikal yang Gila." Ia bersikukuh bahwa ballroom yang direncanakannya akan menjadi "bangunan terbaik dari jenisnya di mana pun di dunia."
Proyek ballroom ini dipandang sebagai salah satu jejak terbesar Trump di ibu kota AS sejak ia kembali menjabat pada Januari 2025. Biaya pembangunannya, yang semula diperkirakan $200 juta namun kini membengkak hingga $400 juta, diklaim sepenuhnya ditanggung oleh donatur swasta. Sumber dana ini termasuk para pendukungnya yang kaya raya serta sejumlah korporasi.
