Teheran – Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Iran, melalui Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), melontarkan tantangan terbuka kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, Teheran menolak keras klaim Washington yang menyebut kemampuan angkatan lautnya telah hancur, dan justru mengundang armada perang AS untuk berlayar ke Teluk Persia, "jika memang berani".
Menurut Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naini, juru bicara IRGC, Selat Hormuz sepenuhnya berada di bawah kendali Angkatan Laut Iran, menegaskan kedaulatan penuh Teheran atas jalur perairan vital tersebut. Naini secara provokatif mempertanyakan klaim Trump sebelumnya mengenai kehancuran angkatan laut Iran, seraya menantang, "Jika dia (Trump) berani, biarkan dia mengirimkan kapal-kapalnya ke wilayah Teluk Persia."

Tidak berhenti di situ, Naini juga mengklaim bahwa pasukannya telah meluncurkan sekitar 7.000 rudal dan 3.600 drone yang menargetkan posisi AS dan Israel. Ia menegaskan bahwa konflik hanya akan berakhir ketika "musuh" mengakui kekuatan militer dan kemampuan pencegahan sosial Iran. "Kami bertekad untuk menghukum agresor dan akan melanjutkan serangan-serangan berat dan destruktif kami terhadap musuh," tegas Naini.
Konteks ketegangan ini bukan tanpa alasan. Situasi di Timur Tengah memang memanas drastis sejak 28 Februari lalu, ketika AS dan Israel melancarkan serangan gabungan berskala besar terhadap Iran. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 1.300 orang, termasuk pemimpin tertinggi negara itu, mendiang Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Teheran melancarkan gelombang serangan rudal dan drone ke berbagai target di Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Selain itu, Iran juga telah menutup Selat Hormuz secara efektif untuk sebagian besar kapal tanker sejak awal Maret, meskipun beberapa kapal Iran dan sejumlah kecil kapal dari negara lain masih dilaporkan berhasil melintasi jalur strategis tersebut.
Saksikan Live Internationalmedia.co.id Sore:

