Internationalmedia.co.id – News – Pernyataan kontroversial Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai keinginannya untuk mengakuisisi Greenland telah memicu gelombang kecaman global. Puncak kemarahan datang dari Perdana Menteri wilayah otonom Greenland, Jens-Frederik Nielsen, yang dengan tegas menyerukan "Cukup sudah!" kepada pemimpin AS tersebut. Ketegangan ini semakin diperparah oleh kekhawatiran akan intervensi militer, mengingat posisi strategis Greenland di Kutub Utara dan preseden tindakan Washington di Venezuela.
Dari dalam pesawat kepresidenan Air Force One, Trump kembali menegaskan niatnya. "Kami membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional, dan Denmark tidak akan mampu mengelolanya," ujarnya kepada reporter, seperti dilaporkan kantor berita AFP pada Senin (5/1/2026). Ia juga menyinggung tentang kehadiran kapal-kapal Rusia dan Tiongkok yang "bertebaran" di pesisir wilayah tersebut bulan lalu, mengklaimnya sebagai ancaman yang mendasari kebutuhannya akan Greenland.

Menanggapi hal itu, PM Nielsen tidak menahan diri. Melalui akun Facebook-nya, ia menulis, "Cukup sudah. Tidak ada lagi tekanan. Tidak ada lagi sindiran. Tidak ada lagi fantasi aneksasi." Ia menekankan bahwa Greenland terbuka untuk diskusi, namun harus melalui "saluran yang tepat dan dengan menghormati hukum internasional."
Solidaritas terhadap Denmark segera datang dari berbagai pihak. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Prancis, Pascal Confavreux, menyatakan kepada saluran televisi TF1 pada Senin (5/1) bahwa "perbatasan tidak dapat diubah dengan paksa," menegaskan dukungan terhadap kedaulatan Denmark atas Greenland. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Tiongkok membalas klaim Trump mengenai ancaman Tiongkok, mendesak AS untuk "berhenti menggunakan apa yang disebut ancaman Tiongkok sebagai alasan untuk mencari keuntungan pribadi."
Kekhawatiran global terhadap ambisi Trump semakin meningkat setelah tindakannya di Venezuela. Trump mengguncang para pemimpin Eropa dengan intervensi militer yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro, yang kini ditahan di New York, AS. Trump secara terbuka menyatakan bahwa AS akan "mengelola" Venezuela tanpa batas waktu dan memanfaatkan cadangan minyaknya yang melimpah.
Ketika ditanya dalam wawancara telepon dengan The Atlantic mengenai implikasi operasi militer Venezuela terhadap Greenland yang kaya mineral, Trump menjawab ambigu. "Mereka harus melihatnya sendiri. Saya benar-benar tidak tahu," katanya, namun kemudian menambahkan, "Tetapi kita memang membutuhkan Greenland, tentu saja. Kita membutuhkannya untuk pertahanan." Pernyataan ini semakin memperjelas motif keamanan dan potensi sumber daya di balik ketertarikan AS terhadap Greenland, memicu gejolak diplomatik yang belum akan mereda.
