Internationalmedia.co.id melaporkan, ketegangan antara Venezuela dan Amerika Serikat kembali memanas. Venezuela merespon pengerahan tiga kapal perusak AS dengan mengerahkan armada kapal perang dan drone di sepanjang garis pantainya pada Selasa (26/8) waktu setempat. Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino, mengumumkan hal ini melalui video di media sosial, menyebut pengerahan drone secara signifikan dan patroli laut di perairan Karibia, termasuk "kapal-kapal yang lebih besar di utara perairan teritorial kami."
Langkah ini merupakan reaksi atas kehadiran tiga kapal perang AS dan 4.000 Marinir yang dikirim ke wilayah tersebut pekan lalu dengan tujuan memberantas perdagangan narkoba. Situasi semakin memanas setelah sumber AS mengabarkan kepada AFP bahwa Presiden AS Donald Trump akan mengirimkan dua kapal perang tambahan, USS Erie dan USS Newport News, minggu depan. USS Erie merupakan kapal penjelajah berpeluru kendali, sementara USS Newport News adalah kapal selam serang cepat bertenaga nuklir.

Meskipun peningkatan kekuatan militer AS yang signifikan, para analis meragukan kemungkinan invasi atau serangan langsung ke Venezuela. Presiden Maduro telah menjadi target utama pemerintahan Trump sejak 2017, namun kebijakan tekanan maksimum, termasuk embargo minyak, gagal menggulingkan rezimnya.
Phil Gunson, analis dari International Crisis Group, berpendapat kepada AFP bahwa pengerahan kapal perang AS bertujuan menciptakan kecemasan dan memaksa Maduro bernegosiasi. Sejak kembali berkuasa Januari lalu, fokus serangan AS terhadap Venezuela beralih pada pemberantasan aktivitas geng transnasional, khususnya Cartel de los Soles yang dituduh dipimpin Maduro dan ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh AS. Pemerintah AS bahkan menaikkan hadiah penangkapan Maduro menjadi US$50 juta.
