Pemerintah Venezuela melayangkan tuduhan serius terhadap Amerika Serikat (AS) atas dugaan serangan terhadap instalasi sipil dan militer di negaranya. Tuduhan ini muncul setelah serangkaian ledakan misterius dan suara pesawat terbang rendah mengguncang ibu kota Caracas pada Sabtu dini hari. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa insiden ini memicu ketegangan diplomatik yang signifikan, meskipun Pentagon dan Gedung Putih sejauh ini memilih bungkam.
Setidaknya tujuh ledakan dilaporkan terjadi di berbagai wilayah Caracas, diikuti oleh pemadaman listrik di beberapa instalasi militer dan kepulan asap yang terlihat dari sebuah hanggar pangkalan militer. Saksi mata, Carmen Hidalgo, seorang pekerja kantoran berusia 21 tahun, menggambarkan kengerian yang dirasakannya. "Seluruh tanah bergetar. Ini mengerikan. Kami mendengar rentetan ledakan dan suara pesawat," ujarnya. Ledakan juga terdengar di negara bagian La Guaira, wilayah pesisir, dan kota Higuerote di Miranda. Video yang diverifikasi CNN menunjukkan kepulan asap dan kilatan cahaya oranye di tengah kota, diikuti dentuman samar.

Dalam pernyataan resminya, pemerintah Venezuela menyebut insiden ini sebagai "agresi militer yang sangat serius" terhadap Caracas. Mereka menyerukan "rakyat turun ke jalan!" dan mengaktifkan rencana mobilisasi nasional. Presiden Nicolas Maduro segera memerintahkan implementasi "semua rencana pertahanan nasional" dan menetapkan "keadaan darurat eksternal" untuk menghadapi apa yang mereka sebut sebagai "serangan imperialis."
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara. Beberapa hari terakhir, militer AS telah menargetkan kapal-kapal yang diduga menyelundupkan narkoba di kawasan Karibia. Presiden AS Donald Trump bahkan sempat membahas kemungkinan serangan darat terhadap Venezuela. Pada Senin sebelumnya, Trump mengklaim AS telah menyerang dan menghancurkan area dermaga yang diduga menjadi tempat berlabuhnya kapal penyelundup narkoba asal Venezuela, meskipun tidak merinci apakah itu operasi militer atau CIA. Serangan tersebut, jika benar, berpotensi menjadi serangan darat pertama AS yang diketahui di wilayah Venezuela.
Maduro sendiri belum mengonfirmasi atau membantah serangan pada Senin tersebut. Namun, pada Kamis, ia menyatakan keterbukaannya untuk bekerja sama dengan AS, meskipun ia juga menuduh Washington berupaya memaksakan perubahan rezim di Venezuela dan menguasai cadangan minyak negaranya yang melimpah. Hingga kini, penyebab pasti ledakan pada Sabtu dini hari belum diketahui, dan belum ada laporan mengenai korban jiwa. Pihak AS masih belum memberikan komentar resmi terkait tuduhan terbaru dari Caracas, meninggalkan banyak pertanyaan tak terjawab di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.

