Internationalmedia.co.id – News – Sebuah serangan mematikan yang dilancarkan Israel di Lebanon selatan telah menewaskan sembilan individu, termasuk dua anak-anak, di tengah gencatan senjata yang seharusnya membawa kedamaian. Peristiwa tragis ini mencuat setelah Presiden Lebanon, Joseph Aoun, secara terbuka mengecam apa yang ia sebut sebagai pelanggaran gencatan senjata Israel yang berkelanjutan selama hampir dua minggu terakhir.
Kementerian Kesehatan Lebanon mengungkapkan bahwa agresi Israel ini mengakibatkan sembilan korban jiwa, terdiri dari dua anak-anak dan lima wanita dewasa, serta melukai 23 orang lainnya, termasuk delapan anak-anak dan tujuh wanita. Presiden Aoun, saat berbicara kepada delegasi Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, menyoroti "pelanggaran berkelanjutan yang dilakukan Israel" di wilayah selatan Lebanon. Ia menegaskan bahwa hal ini terjadi "meskipun ada gencatan senjata, disertai dengan penghancuran infrastruktur sipil seperti rumah dan tempat ibadah, sementara jumlah korban tewas dan terluka terus meningkat dari hari ke hari."

Pada Kamis (30/4/2026), juru bicara militer Israel mengeluarkan seruan untuk evakuasi delapan desa di selatan, mengisyaratkan operasi militer yang direncanakan di sana. Sejak gencatan senjata dimulai pada 17 April, Israel telah mendeklarasikan apa yang mereka sebut ‘Garis Kuning’—sebuah jalur selebar sekitar 10 kilometer di sepanjang perbatasan Lebanon, tempat mereka beroperasi dan menghancurkan desa-desa. Presiden Aoun menyerukan "tekanan yang signifikan terhadap Israel untuk memastikan mereka menghormati hukum dan konvensi internasional serta berhenti menargetkan warga sipil, paramedis, pertahanan sipil, dan organisasi kesehatan serta bantuan kemanusiaan." Seruan ini mengemuka pada hari yang sama ketika tiga paramedis yang gugur akibat serangan Israel dimakamkan, menambah daftar panjang korban sipil.
Laporan dari Internationalmedia.co.id mencatat serangkaian serangan udara Israel di seluruh Lebanon selatan pada Kamis (29/4). Sementara itu, Hizbullah mengklaim telah melancarkan sejumlah operasi yang menargetkan pasukan Israel di Lebanon selatan, serta meluncurkan roket ke arah Israel utara, sejak dimulainya gencatan senjata.
Poin krusial yang memicu kontroversi adalah interpretasi teks gencatan senjata itu sendiri. Departemen Luar Negeri AS menerbitkan teks yang memberi Israel hak untuk merespons "serangan yang direncanakan, akan segera terjadi, atau sedang berlangsung." Namun, Hizbullah menolak pernyataan tersebut, menegaskan bahwa rumusan tersebut tidak pernah diajukan ke kabinet Lebanon, di mana anggota kelompok tersebut memiliki perwakilan. Presiden Aoun sebelumnya mengatakan pada Rabu (28/4) bahwa "rumusan ini muncul dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh Departemen Luar Negeri AS, dan itu adalah teks yang sama yang diadopsi pada November 2024" sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata sebelumnya. Namun, Ketua Parlemen Nabih Berri, sekutu Hizbullah, membantah keras pernyataan Aoun, menggambarkannya sebagai "sangat tidak akurat, dan ini juga berlaku untuk perjanjian November 2024." Situasi ini memperlihatkan betapa rapuhnya upaya perdamaian di tengah ketegangan yang terus memuncak.
