Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, mengguncang panggung geopolitik dengan pernyataan tegasnya. Dalam sebuah pesan tertulis yang dibacakan pada peringatan Hari Teluk Persia, Khamenei mendeklarasikan bahwa Amerika Serikat telah mengalami kekalahan telak dalam konfrontasinya dengan Republik Islam. Ia bahkan memprediksi masa depan kawasan Teluk akan bersinar terang tanpa kehadiran AS. Demikian dilaporkan Internationalmedia.co.id – News.
Dalam pesan yang disiarkan televisi pemerintah pada Kamis (30/4/2026), Khamenei secara eksplisit menyatakan, "Hari ini, dua bulan setelah pengerahan militer dan agresi terbesar oleh para pengganggu dunia di kawasan ini, dan kekalahan memalukan Amerika Serikat dalam rencananya, babak baru sedang berlangsung untuk Teluk Persia dan Selat Hormuz." Pernyataan ini menjadi sorotan mengingat kemunculan publik pertamanya sejak dilantik sebagai pemimpin tertinggi pada 9 Maret. Mojtaba Khamenei mengambil alih kepemimpinan setelah serangkaian serangan besar-besaran oleh AS dan Israel pada 28 Februari yang merenggut nyawa ayahnya, Ali Khamenei. Sumber dari New York Times, mengutip pejabat Iran anonim, menyebutkan bahwa Khamenei muda sempat "terluka parah" dalam serangan tersebut, namun tetap "berpikiran tajam."

Khamenei juga menyoroti kelemahan pangkalan militer AS di wilayah tersebut, menegaskan bahwa fasilitas itu "bahkan tidak memiliki kapasitas untuk memastikan keamanan mereka sendiri, apalagi memberikan harapan untuk mengamankan sekutu mereka." Ia dengan bangga memuji "kerangka hukum dan pengelolaan baru" Iran atas Selat Hormuz yang strategis, sebuah jalur energi vital yang kerap menjadi titik konflik. Menurutnya, langkah ini akan membawa "kenyamanan dan kemajuan" bagi negara-negara di kawasan.
Lebih lanjut, Khamenei mengutuk keras "pihak luar" yang mencampuri urusan regional, dengan tegas menyatakan bahwa mereka yang ikut campur dari jarak ribuan kilometer "tidak punya tempat di sana kecuali di dasar perairannya." Ia juga mengapresiasi rakyat Iran yang disebutnya "menganggap semua kapasitas nasional—identitas, spiritual, manusia, ilmiah, industri, dan teknologi canggih dari nano dan bio hingga nuklir dan rudal—sebagai modal nasional mereka." Sebagai bukti penguasaan Iran atas Selat Hormuz, seorang anggota parlemen senior pekan lalu mengonfirmasi bahwa Teheran telah menerima pendapatan pertama dari tol yang dikenakan di selat tersebut.
Sikap menantang ini juga digaungkan oleh pejabat tinggi Iran lainnya. Presiden Masoud Pezeshkian, pada hari yang sama, menyatakan bahwa blokade angkatan laut AS yang diberlakukan sebagai balasan atas tindakan Iran di Hormuz "pasti akan gagal." Pezeshkian menambahkan, tindakan tersebut "tidak hanya akan gagal meningkatkan keamanan regional, tetapi sebenarnya merupakan sumber ketegangan dan gangguan terhadap stabilitas yang langgeng di Teluk Persia." Sementara itu, komandan angkatan laut Shahram Irani mengisyaratkan bahwa Iran akan segera mengerahkan persenjataan angkatan laut yang baru dikembangkan "dalam waktu dekat."
