Teheran melayangkan tuduhan serius terhadap Washington, menyusul operasi penyelamatan pilot jet tempur Amerika Serikat (AS) yang jatuh di wilayahnya. Otoritas Iran menduga kuat bahwa misi tersebut hanyalah kedok untuk tujuan yang lebih licik: pencurian uranium. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, kecurigaan ini mencuat setelah serangkaian insiden militer yang meningkatkan ketegangan antara kedua negara.
Insiden ini bermula pada Jumat (3/4) lalu, ketika sebuah jet tempur AS dilaporkan jatuh setelah ditembak jatuh oleh pasukan Iran. Presiden AS Donald Trump kemudian mengklaim bahwa pasukannya berhasil menyelamatkan pilot yang hilang tersebut. Namun, klaim Washington ini dibantah keras oleh Teheran, yang menyatakan telah menembak jatuh tidak hanya dua jet tempur, tetapi juga tiga drone dan dua rudal jelajah AS dalam insiden awal. Menyusul jatuhnya pilot, AS segera mengerahkan armada pesawat dan helikopter dalam sebuah operasi penyelamatan. Iran mengklaim bahwa dalam proses tersebut, mereka juga berhasil menjatuhkan dua pesawat dan helikopter AS yang terlibat dalam misi tersebut.

Kecurigaan Iran semakin mendalam setelah Presiden Trump mengumumkan pengerahan pasukan komando elit AS, Navy SEAL, untuk misi tersebut. Teheran melihat pengerahan besar-besaran pasukan dan peralatan militer ini bukan sekadar upaya penyelamatan, melainkan sebuah ‘misi penipuan dan pelarian’ yang dirancang untuk menutupi niat sebenarnya: mencuri uranium. Militer Iran bahkan bersikeras bahwa operasi AS tersebut telah ‘sepenuhnya digagalkan’ oleh pertahanan mereka.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, melalui pernyataan pada Senin (6/4), mengungkapkan ‘banyak pertanyaan dan ketidakpastian’ seputar operasi militer AS di tanah Iran. Baghaei menyoroti kejanggalan lokasi: "Area di mana pilot Amerika diklaim berada, yaitu di Provinsi Kohgiluyeh dan Boyer-Ahmad, letaknya sangat jauh dari wilayah yang menjadi target pendaratan pasukan AS di Iran bagian tengah," ujarnya, mengindikasikan adanya motif tersembunyi.
Baghaei secara gamblang menyatakan bahwa kemungkinan AS berupaya mencuri uranium "sama sekali tidak boleh diabaikan". Ia menegaskan, "Ini bisa jadi operasi tipu muslihat untuk mencuri uranium yang diperkaya." Lebih lanjut, ia menggambarkan seluruh operasi militer AS tersebut sebagai ‘bencana’ yang memalukan bagi Washington.
Militer Iran mengklaim, dalam upaya menggagalkan misi tersebut, beberapa pesawat militer AS terpaksa ‘melakukan pendaratan darurat’ di Provinsi Isfahan bagian selatan setelah dihantam tembakan. Sebagai konsekuensinya, Teheran menuduh AS ‘terpaksa membombardir pesawat yang jatuh’ milik mereka sendiri untuk menghapus jejak. Baghaei secara spesifik menyebutkan bahwa dua pesawat angkut militer C-130 dan dua helikopter Black Hawk milik AS telah berhasil dihancurkan oleh pasukan Iran selama berlangsungnya operasi penyelamatan tersebut.

