Internationalmedia.co.id – News melaporkan, ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Jerman memuncak setelah Kanselir Jerman Friedrich Merz melontarkan kritik tajam terhadap strategi AS dalam menghadapi Iran. Presiden Donald Trump dengan cepat membalas, menuduh Merz tidak memahami situasi, menyusul pernyataan Kanselir Jerman tersebut yang menyebut Teheran telah "mempermalukan" Washington. Insiden ini kian memperlihatkan keretakan di antara dua sekutu transatlantik yang sebelumnya sudah terpecah belah terkait isu-isu seperti Ukraina dan keamanan global.
Kritik Merz yang memicu kemarahan Trump ini disampaikan pada Senin (27/4) waktu setempat. Merz secara blak-blakan menyatakan bahwa kepemimpinan Iran telah berulang kali "mempermalukan" Amerika Serikat. Menurutnya, Teheran berhasil menyeret para pejabat AS ke dalam serangkaian perundingan diplomatik yang tak pernah membuahkan hasil konkret, sebuah proses yang ia sebut sangat memalukan bagi Washington di mata dunia. Ia juga secara terbuka mempertanyakan "strategi keluar" (exit strategy) pemerintahan Trump dalam konflik dengan Iran, menggarisbawahi ketidakjelasan arah kebijakan AS.

Tak butuh waktu lama bagi Trump untuk melancarkan serangan balik. Melalui platform Truth Social, seperti dilaporkan TRT World, Trump menuduh Merz mendukung ambisi nuklir Iran dan secara tidak langsung memperparah ketegangan antara AS dan Jerman. "Kanselir Jerman, Friedrich Merz, berpikir tidak apa-apa bagi Iran untuk memiliki senjata nuklir. Dia tidak tahu apa yang dia bicarakan!" tulis Trump dalam postingannya. Ia melanjutkan, "Jika Iran memiliki senjata nuklir, seluruh dunia akan menjadi sandera." Presiden AS itu juga mengklaim sedang melakukan hal yang seharusnya sudah dilakukan oleh negara lain terhadap Iran, sembari menyindir kondisi Jerman: "Tidak heran Jerman begitu buruk, baik secara ekonomi maupun hal-hal lainnya."
Pertukaran kritik terbuka antara Merz dan Trump ini bukan sekadar insiden tunggal, melainkan cerminan dari keretakan yang semakin dalam antara Washington dan sekutu-sekutu NATO di Eropa. Perselisihan mengenai Iran ini menambah daftar panjang ketegangan yang sudah ada, termasuk perbedaan pandangan tentang perang Ukraina, alokasi anggaran pertahanan, dan kebijakan keamanan global yang lebih luas. Perdebatan publik ini menandai salah satu bentrokan transatlantik paling tajam dalam beberapa bulan terakhir, di mana negara-negara Eropa semakin menunjukkan kegelisahan mereka terhadap proses pengambilan keputusan AS di berbagai titik konflik global.
