Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut-sebut memiliki ambisi besar terhadap Greenland, dengan dua skenario utama yang mencuat: pembelian atau tindakan militer. Meskipun opsi militer sempat menjadi perbincangan serius, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengungkapkan bahwa Trump lebih condong pada upaya akuisisi melalui pembelian wilayah otonom Denmark yang kaya mineral ini. Demikian laporan Internationalmedia.co.id – News.
Ketertarikan Trump terhadap Greenland bukan tanpa alasan. Gedung Putih, melalui Sekretaris Pers Karoline Leavitt, menegaskan bahwa "penguasaan Greenland adalah prioritas keamanan nasional" bagi Trump. Langkah ini dianggap krusial untuk membendung pengaruh musuh-musuh AS seperti Rusia dan China di kawasan strategis tersebut. Leavitt menambahkan, "Presiden dan timnya sedang mendiskusikan berbagai opsi untuk mencapai tujuan kebijakan luar negeri yang vital ini, dan tentu saja, penggunaan militer AS selalu menjadi pilihan yang tersedia bagi panglima tertinggi," seperti dikutip dari kantor berita AFP pada Rabu (7/1/2026).

Laporan dari Wall Street Journal menguatkan pernyataan Rubio kepada para anggota parlemen, di mana opsi pembelian Greenland dari Denmark menjadi pilihan utama Trump. Rubio juga menekankan bahwa ancaman tersebut tidak mengindikasikan invasi yang akan segera terjadi, melainkan lebih pada preferensi strategis.
Namun, ambisi Washington ini disambut dengan penolakan tegas dari Denmark dan Greenland. Pemerintah Denmark telah memperingatkan bahwa setiap upaya untuk merebut Greenland secara paksa akan berujung pada "akhir dari segalanya", termasuk runtuhnya aliansi NATO dan 80 tahun hubungan keamanan transatlantik yang erat. Tindakan militer AS terhadap Greenland secara efektif akan melumpuhkan NATO, mengingat Pasal Lima aliansi tersebut menjamin pembelaan bersama bagi setiap negara anggota yang diserang.
Ketegangan yang meningkat ini juga tercermin dari upaya diplomatik yang belum membuahkan hasil. Menteri Luar Negeri Greenland, Vivian Motzfeldt, melalui media sosialnya mengungkapkan bahwa mereka telah berupaya keras untuk mengadakan pertemuan dengan Rubio sepanjang tahun 2025, namun "sejauh ini belum memungkinkan." Senada, Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen berharap pertemuan dengan Rubio dapat "menjelaskan beberapa kesalahpahaman."
Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, sebelumnya telah menegaskan secara gamblang bahwa pulau tersebut tidak untuk dijual. Ia menekankan bahwa hanya 57.000 penduduknya yang memiliki hak penuh untuk menentukan masa depan wilayah mereka.
