Internationalmedia.co.id Warga Somalia memberikan tanggapan beragam, antara geram dan menerima, terhadap pernyataan pedas Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang merendahkan negara mereka. Pernyataan kontroversial ini dilontarkan Trump saat rapat kabinet di Gedung Putih, Rabu (3/12), menuduh migran Somalia tidak tahu berterima kasih dan menyatakan ketidakinginannya terhadap mereka di AS.
Pemerintah Somalia memilih bungkam, diduga karena khawatir menyinggung AS yang merupakan sumber utama bantuan pertahanan dan kemanusiaan, meskipun dukungan tersebut telah berkurang di bawah pemerintahan Trump.

Di Mogadishu, kemarahan warga meluap. Daud Bare, seorang pedagang, menyatakan bahwa ini bukan pertama kalinya Trump bersikap negatif terhadap Somalia, tetapi kali ini pelanggarannya tidak dapat diterima. Ia mendesak pemerintah Somalia untuk menghentikan penghinaan Trump.
Sumaya Hassan Ali, seorang mahasiswa, menyebut komentar Trump "kasar," menekankan bahwa setiap negara memiliki masalahnya sendiri, bahkan Amerika. Ia mengkritik sikap diam Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud.
Namun, beberapa pihak memahami dilema pemimpin Somalia. Seorang dosen, Mahdi Ibrahim, menjelaskan bahwa AS mendukung Somalia dalam perang melawan terorisme, dan menyinggung Trump dapat berisiko penarikan dukungan AS.
Nuradin Abdi, seorang pekerja LSM, memberikan pandangan yang lebih konstruktif. Ia mengakui bahwa sebagian besar pernyataan Trump tentang Somalia memang benar, menyoroti perjuangan negara tersebut melawan perang, korupsi, dan pengungsi. Abdi menekankan perlunya perubahan internal untuk memperbaiki narasi global negatif tentang Somalia.
Trump, yang dikenal dengan retorika anti-imigran, juga mencaci maki Ilhan Omar, anggota kongres AS keturunan Somalia, dengan sebutan "sampah" dan menyarankan agar ia kembali ke negara asalnya untuk memperbaikinya.
Pernyataan Trump ini menambah daftar panjang kontroversi terkait komentarnya terhadap kaum minoritas dan imigran.
